Belajar dari ‘Jawara’ Garut, Gapoktan Bunga Tanjung Kawalu Buktikan Budidaya Bawang Merah Mandiri Bisa Berhasil

Belajar dari ‘Jawara Garut’, Gapoktan Bunga Tanjung Kawalu Buktikan Budidaya Bawang Merah Mandiri Bisa Berhasil | dok.

Kota, Wartatasik.com – Semangat pantang menyerah ditunjukkan oleh para petani yang tergabung dalam Gapoktan Bunga Tanjung, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Kawalu.

Di tengah dominasi tanaman padi, mereka berani melakukan terobosan dengan membudidayakan bawang merah secara mandiri di Kampung Cukang.

​Langkah ini bukan sekadar coba-coba. Ketua Gapoktan Bunga Tanjung, Agus Syahroni, mengungkapkan bahwa pihaknya mengadopsi standar operasional prosedur (SOP) langsung dari para “jawara” petani bawang asal Majalengka dan Garut.

​Agus menjelaskan bahwa seluruh tahapan, mulai dari pengolahan lahan, proses pindah tanam, hingga aplikasi pemupukan, dilakukan berdasarkan rekomendasi ahli.

Bahkan, katanya lagi, untuk menjaga kualitas tanaman dari serangan penyakit, aplikasi bakterisida pun dilakukan secara ketat.

​”Kami ingin hasilnya maksimal, jadi kami ikuti SOP dari petani Majalengka dan Garut yang memang sudah ahli di bidang bawang. Semua kami terapkan di lahan seluas 420 meter persegi ini,” ujar Agus saat ditemui di lokasi, baru-baru ini, Kamis (30/4/2026).

​​Menariknya, inisiatif ini lahir tanpa sentuhan anggaran dari pemerintah. Agus menegaskan bahwa ini adalah program mandiri kelompok sebagai upaya diversifikasi pertanian di wilayahnya. Meski begitu, ia tak menampik adanya hambatan di lapangan, terutama soal pendampingan teknis.

​”Kendala utama saat ini adalah kurangnya pendampingan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Sejauh ini mereka masih sangat fokus pada komoditas padi, sehingga kami yang mencoba bawang ini harus lebih banyak bergerak sendiri,” tambahnya.

Foto: dokpri

​Meski hasil panen saat ini belum dalam skala raksasa karena menggunakan benih dari biji yang diproses menjadi F1, Agus optimis dengan prospek ke depannya.

“Rencananya, hasil panen ini akan dipasarkan ke Pasar Cikurubuk yang memang menjadi pusat perputaran ekonomi di Kota Tasikmalaya,” tuturnya.

​Sambil menunggu langkah selanjutnya, lahan tersebut tidak akan dibiarkan menganggur, “Sambil menunggu masa dormansi benih sekitar tiga bulan, lahan akan kami tanami ubi terlebih dahulu agar tanah tetap produktif dan menghasilkan,” pungkas Agus.

#Wartatasik, #Tasikmalaya, #Kawalu, #KelurahanTanjung, #KabarTasik, #TasikHariIni, #SeputarTasik, #InfoTasikmalaya,

Berita Terkait