
DPRD Kota Tasikmalaya Minta Priangan Bamboo Fest 2026 Tak Sekadar Seremonial, Kepler Sianturi Catat 3 Hal Ini..
Kota, Wartatasik.com – Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Priangan Bamboo Fest 2026 yang berlangsung di Gedung Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK) Kota Tasikmalaya pada 14 – 18 Oktober 2026.
Menurutnya, ajang ini memiliki potensi besar dalam memperkuat industri kerajinan berbahan bambu, sekaligus menopang pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kota Tasikmalaya.
Kepler menilai, pengembangan sektor ini sangat sejalan dengan langkah Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya yang saat ini tengah mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) tentang Ekonomi Kreatif.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini demi mendorong ekonomi kreatif di Kota Tasikmalaya. Apalagi di Komisi II kami juga sedang mendorong hadirnya Perda Ekraf, jadi momentum Bamboo Fest 2026 ini sangat beriringan agar ekonomi kreatif kita semakin bergeliat,” ujar Kepler, Rabu (14/10/2026).
Meski demikian, Kepler memberikan tiga catatan krusial yang perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya dan pihak penyelenggara agar dampak festival dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan:
1. Sosialisasi yang Lebih Masif
Kepler menilai informasi mengenai gelaran Priangan Bamboo Fest 2026 belum tersampaikan secara menyeluruh kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) di sektor kerajinan bambu. “Catatan pertama, kegiatan ini sangat baik, namun belum tersosialisasi secara optimal kepada seluruh stakeholder terkait,” ungkapnya.
2. Pelibatan Aktif Pelaku Usaha
Penyelenggaraan festival diharapkan mampu merangkul para pengrajin dan pelaku UMKM lokal secara konkret. Kepler menekankan agar ajang ini diikuti oleh tindakan nyata dalam memperluas pasar dan menggerakkan ekosistem industri kreatif, bukan berhenti sebagai agenda formalitas tahunan semata.
3. Keberlanjutan Bahan Baku (Reboisasi Bambu)
Mengingat tingginya pemanfaatan bambu untuk produk kerajinan, Kepler mengingatkan Pemkot Tasikmalaya dan para pemangku kepentingan untuk memperhatikan ketersediaan pasokan bahan baku di masa depan melalui program penanaman kembali (replanting).
“Pemanfaatan bambu untuk kerajinan tentu cukup banyak. Maka harus ada tindakan berkesinambungan. Setelah ditabang, Pemkot dan stakeholder harus mendorong gerakan menanam kembali agar ketersediaan bahan baku tetap terjaga di masa depan,” tegasnya.
Kepler berharap ketiga catatan tersebut dapat segera ditindaklanjuti. Dengan sosialisasi yang masif, pelibatan ekosistem usaha secara menyeluruh, serta menjaga ketersediaan sumber daya alamnya, Priangan Bamboo Fest tidak hanya menjadi panggung promosi, tetapi juga pilar keberlanjutan ekonomi kreatif di Kota Tasikmalaya. Asron
