Cegah Mall Gizi, Dinkes Kota Jalankan Program Seribu Hari Pertama Kehidupan

 3,682 total views

dr. Sarwono / EQi
dr. Sarwono / EQi

Kota, Wartatasik.com – Beberapa waktu lalu, Kota Tasikmalaya disebut daerah yang memiliki Mall Gizi atau Gizi Buruk. Namun, sekarang ini perihal tersebut sudah teratasi secara bertahap. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mempersiapkan stok untuk Gebyar Makanan Tambahan untuk balita dan ibu hamil. Demikian dikatakan Kabid Binkesmas dr. Sarwono didampingi Kasie Kesga dan Gizi, Nefi P, saat ditemui, Jum’at (27/01).

Ia mengungkapkan, setiap tahun khususnya pada bulan Januari ada penimbangan balita dan di bulan Agustus penimbangan balita juga pemberian vitamin. “Dari situlah diketahui dan dapat diukur tentang gizi yang kurang dan gizi yang lebih juga peningkatannya,” terangnya. Direinya menambahkan, untuk menentukan Gizi Buruk atau tidaknya bukan dilihat dari jumlah protein dan karbohidrat yang dikonsumsi, melainkan dari berat badan dibandingkan dengan tinggi badan.

“Kalau balita, berat badan berdasarkan tinggi badannya kurang dari 3 standar deviasi itu dikatakan Gizi Buruk ada gejala teknis atau tidak. Jika dalam persentase 0.31 ambang batasnya 0.5 masih di bawah, dalam renstra tahun 2016 targetnya 0.31 kita tercapai 0.32, sehingga dianggap merah atau dianggap masalah,” jelas Ia. Masalah gizi ini, lanjutnya, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti bahan makanan itu sendiri.

Oleh karena itu, dikatakannya, untuk mengatasi adanya Mall Gizi bidangnya mengadakan program 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak anak dalam kandungan sampai anak berusia dua tahun. Bukan masalah gizi saja, tapi juga masalah kesehatan ibu hamil sampai balita. Ibu hamil diberi Tablet Tambah Darah sehingga waktu melahirkan tidak mengalami kekurangan darah dan diperiksa empat kali kehamilannya.

Selanjutnya dari mulai lahir, sambung Ia, bayinya dilakukan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini,  si bayi diberikan ASI selama satu bulan, lalu diberikan ASI Exlusive sampai enam bulan. “Selama enam bulan ini, bayi tidak diberi makanan selain ASI karena akan mengalami gangguan pada alat pencernaannya seperti diare. Dari enam bulan ke atas bayi diberikan MPASI atau makanan pengganti ASI secara bertahap,” pungkasnya.

Laporan: EQi

Related posts