Kembali, 11 Ormas dan LSM Gelar Aksi Desak Walikota Mundur

 3,372 total views

Aksi unjuk rasa sebelas Ormas dan LSM di Depan Bale Kota Tasikmalaya, Senin (26/10) tadi siang diwarnai pembakaran ban mobil bekas.
Aksi unjuk rasa sebelas Ormas dan LSM di Depan Bale Kota Tasikmalaya, Senin (26/10) tadi siang diwarnai pembakaran ban mobil bekas.

Kota, Wartatasik.com – Sebelas elemen Ormas dan LSM di Kota Tasikmalaya yang tergabung dalam “Rakyat Menggugat” kembali menggelar aksi unjuk rasa di Depan Bale Kota, Senin (26/10) tadi siang. Sejumlah elemen tersebut terdiri dari Forum Pemerhati Kebijakan (FPK), Pemuda Demokrat Indonesia, GIBAS, Aliansi Indonesia, KAMPU, GAPURA, GREMASI, GASIBU, SIPATUTAT, GMBI dan Forum Pataruman.

Dalam aksinya, mereka menuntut beberapa poin kepada pemerintah yang berkaitan dengan Pasar Modern atau minimarket dan sejenisnya. Menjamurnya pusat pembelanjaan waralaba tersebut dinilainya telah mematikan para pedagang kecil dan pasar tradisional di kota santri ini.

Ketua FPK Ais Rais didampingi seluruh ketua elemen lainnya menegaskan bahwa lahirnya Perda No. 1 Tahun 2015 dan Perwalkot No. 1 Tahun 2015 tentang Pasar Modern ditengarai bukan saja inkonstitusional tapi juga merupakan program hasil persekongkolan rezim penguasa dan keserakahan kapitalis untuk memuluskan keberadaan minimarket waralaba dengan tujuan akhir meraup keuntungan besar.

“Kepentingan kapitalis tersebut bertentangan dengan dasar rakyat dalam mendapatkan penghidupannya. Untuk itu, kami menuntut agar Budi Budiman mundur dari kursi walikota, usir dan hancurkan kaum kapitalisme dari kota ini yang telah membunuh perekonomian rakyat serta boikot produk-produknya dari Kota Tasikmalaya. Selain itu, cabut Perda dan Perwalkot tentang Pasar Modern dan batalkan seluruh izin pasar modern yang mengacu terhadap peraturan tersebut, dan juga berdayakan pasar tradisional dengan berbagai program,” paparnya.

Jika tuntutannya dalam aksi gelombang kedua tersebut masih tak digubris pihak Pemkot Tasikmalaya, maka pihaknya mengancam akan terus menggelar aksi serupa sampai adanya tindak lanjut serta langkah tegas dari pihak-pihak terkait untuk meluruskan nasib pasar tradisional dan para pedagang kecil. “Ini baru awal. Kalau walikota masih tak mau mendengar maka kami akan terus menggelar aksi secara bergelombang sampai permasalahan ini bisa di selesaikan dengan baik dan mengindahkan tuntutan-tuntutan kami ini,” ujar Ia.

Aksi unjuk rasa sebelas elemen tersebut diwarnai dengan pembakaran ban mobil bekas tepat di depan Gedung Bale Kota dan juga insiden penendangan pintu kendaraan aksi oleh salah seorang anggota kepolisian sehingga memicu terjadinya kericuhan.Indra/Asron

Related posts

Leave a Comment