
Pangandaran, Wartatasik.com – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya terus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko lembaga jasa keuangan di wilayah Priangan Timur guna menjaga stabilitas sektor jasa keuangan serta mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi daerah di tengah meningkatnya tantangan perekonomian global dan nasional.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Evaluasi Kinerja Lembaga Jasa Keuangan (LJK) di Wilayah Kerja OJK Tasikmalaya yang dilaksanakan di Hotel Grand Palma Pangandaran, belum lama ini.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman dan Kepala OJK Tasikmalaya Nofa Hermawati, serta diikuti oleh jajaran direksi dan pengurus Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan LKM Syariah, serta Pergadaian se-Priangan Timur.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman menekankan pentingnya peningkatan tata kelola dan manajemen risiko pada seluruh LJK di wilayah Priangan Timur guna menjaga ketahanan sektor jasa keuangan di tengah meningkatnya tantangan dan tekanan perekonomian, baik global maupun nasional.
“Penting bagi kita semua untuk tidak hanya memantau kinerja keuangan, tetapi juga memastikan bahwa LJK di Jawa Barat mampu beradaptasi dengan tantangan yang ada, khususnya terkait dengan kualitas kredit/pembiayaan dan pengelolaan risiko,” ungkap Darwisman.
Ke depan, lanjutnya, upaya pembenahan operasional, akan terus dilakukan untuk menciptakan LJK yang lebih efisien dan kompetitif, yang tentunya akan mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi regional.
Senada dengan hal tersebut, Kepala OJK Tasikmalaya Nofa Hermawati menyoroti peran strategis sektor jasa keuangan dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi Priangan Timur pada tahun 2025 tercatat sebesar 4,42 persen, masih berada di bawah capaian nasional sebesar 5,04 persen dan Provinsi Jawa Barat sebesar 5,20 persen pada triwulan III.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan peran sektor jasa keuangan dalam mendorong pembiayaan produktif, investasi daerah, serta pengembangan sektor-sektor unggulan agar pertumbuhan ekonomi dapat dipercepat secara berkelanjutan,” ujar Nofa.
Pada kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk., Andry Asmoro, sebagai narasumber dalam sesi diskusi “Outlook Perekonomian dan Sektor Keuangan Indonesia 2026”. Dalam paparannya, Andry menguraikan dinamika perekonomian global dan domestik yang masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik, yang berdampak pada volatilitas nilai tukar rupiah serta respons kebijakan ekonomi nasional.
Meski demikian, Andry menekankan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang positif, didukung oleh ketahanan permintaan domestik, stabilitas sektor keuangan, serta peran kebijakan fiskal dan moneter yang tetap akomodatif. Dengan berbagai faktor pendukung tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan tetap terjaga pada kisaran 5,18 persen.
Perkembangan Kinerja BPR/BPR Syariah
Kinerja BPR/BPR Syariah di Priangan Timur menunjukkan tren yang tetap positif. Hal ini tercermin pada posisi Desember 2025 adanya pertumbuhan aset sebesar 3,81 persen (yoy) mencapai Rp3,56 triliun, peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 2.71 persen (yoy) mencapai Rp2,51 triliun, serta pertumbuhan kredit sebesar 5,62 persen (yoy) atau Rp2,81 triliun. Fungsi intermediasi tetap berjalan secara berkelanjutan dengan tingkat Non Performing Loan (NPL) yang masih terjaga dalam batas terkendali.
Penyaluran kredit BPR/BPRS di wilayah Priangan Timur masih didominasi oleh sektor Non-UMKM yang terus tumbuh positif. Per Desember 2025, nilai penyaluran kredit segmen ini mencapai Rp1,89 triliun atau tumbuh 6,27 persen (yoy) dengan NPL yang relatif terjaga di level 3,39 persen.
Per Desember 2025 penyaluran kredit produktif/UMKM tercatat sebesar Rp919 miliar atau meningkat 4,30 persen (yoy) yang masih di dominasi oleh kredit konsumsi. Namun demikian, pertumbuhan tersebut diiringi tingkat NPL yang relatif tinggi, yakni 7,26 persen, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam penguatan kualitas kredit dan penerapan manajemen risiko yang lebih prudent.
Sementara itu untuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Priangan Timur pada posisi Desember 2025, tercatat sebesar Rp5,73 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 122.833. Kabupaten Garut menjadi daerah dengan penyaluran terbesar, yakni Rp1,69 triliun (29.426 debitur) diikuti Kabupaten Tasikmalaya Rp1,24 triliun (28.266 debitur), Kabupaten Sumedang Rp915 miliar (19.165 debitur), Kabupaten Ciamis Rp844 miliar (17.815 debitur), Kota Tasikmalaya Rp592 miliar (9.041 debitur), Kabupaten Pangandaran Rp303 miliar (6.550 debitur) dan Kota Banjar Rp138 miliar (2.570 debitur). Sektor dominan penerima KUR adalah sektor perdagangan besar dan eceran.
Perkembangan Pasar Modal
Posisi akhir Desember 2025 dari sisi pasar modal, Priangan Timur masih menunjukkan potensi pertumbuhan basis investor. Jumlah Single Investor Identification (SID) saham tercatat sebanyak 66.940 atau tumbuh 17,35 persen (yoy), SID reksa dana mencapai 61.755 atau tumbuh 16,32 persen (yoy). serta SID Surat Berharga Negara (SBN) meningkat yang paling tinggi sebesar 21,66 persen (yoy) menjadi 2.610 SID.
Seiring dengan peningkatan jumlah investor, nilai transaksi saham di Priangan Timur tercatat Rp496 miliar atau tumbuh signifikan sebesar 90,32 persen (yoy).
Perkembangan Kinerja LKM/S dan Pergadaian
Hingga akhir Desember 2025 kinerja LKM/S masih menghadapi tekanan, tercermin dari penurunan asset sebesar 3,37 persen (yoy) atau sebesar Ro108,55 miliar dan penyaluran kredit yang turun 17,59 persen (yoy) atau sebesar Rp77,21 miliar disertai peningkatan NPL pada level 15,67 persen (yoy). Meski demikian, penghimpunan dana masyarakat relatif terjaga dengan pertumbuhan 1,02 persen (yoy) atau mencapai Rp91,71 miliar.
Sementara itu, Pergadaian menunjukkan ekspansi usaha dengan peningkatan aset sebesar 19,48 persen atau mencapai Rp11,82 miliar dan peningkatan penyaluran pinjaman sebesar 23,59 persen atau mencapai Rp6,28 miliar.
Perkembangan Edukasi dan Pelindungan Konsumen
Sepanjang tahun 2025, OJK Tasikmalaya telah melaksankan 148 kegiatan edukasi keuangan dengan total 28.873 peserta, yang mencakup segemen masyarakat umum, pelajar/mahasiswa, perempuan/Ibu Rumah Tangga dan profesional.
Di sisi pelindungan konsumen sebanyak 1.436 pengaduan masyarakat di sektor jasa keuangan telah ditindaklanjuti dengan tingkat penyelesaian sebesar 99,96 persen. Selain itu, layanan Sistem Informasi Keuangan (SLIK) OJK mencatat penyelesaian 19.782 permintaan yang terdiri atas 12.877 permintaan secara langsung (walk in) dan 6.485 permintaan secara daring.
OJK Tasikmalaya menegaskan komitmennya untuk terus mendorong peningkatan kualitas tata kelola, manajemen risiko, serta pemanfaatan inovasi dan digitalisasi sektor jasa Keuangan guna memperluas akses keuangan dan meningkatkan literasi masyarakat, sehingga sektor jasa keuangan di Priangan Timur semakin solid, adaptif, dan berdaya saing. Asron
