Pengusaha “Ngeluh” Harga Gas RI Kelewat Mahal

 1,944 total views

net
net

Nasional, Wartatasik.com – Sejumlah Pengusaha Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) mengeluhkan harga gas yang masih saja mahal di dalam negeri. Di lain pihak, produsen tekstil dari negara lain yang jadi pesaing, selama ini menikmati harga gas yang lebih murah. “Kita kan industri hulu, maka konsumsi gas sangat besar, tapi di hulu ini masih dikenakan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan Korea, Vietnam, Thailand, dan Malaysia,” kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat di acara Breakfast Meeting Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (29/8).

“Akhirnya jadi snow ball (bola salju) seperti akhirnya produsen kain lebih banyak impor benang dan serat, daripada produksi dari dalam negeri. Karena apa? Lebih murah impor,” imbuhnya. Diungkapkannya, biaya untuk energi berkontribusi 28% dari struktur biaya dari industri hulu TPT seperti pabrik serat dan benang.

“Energi khususnya gas ini yang paling dibutuhkan di tekstil hulu. Jadi tulang punggung dari proses produksi tekstil, tapi gas mahal, padahal cost structure sampai 28%,” ujar Ade. Sebagai informasi, harga gas industri di Indonesia menyentuh angka US$ 8-10 per Million Metric British Thermal Unit (MMBTU). Lebih mahal dibandingkan dengan harga gas industri di Singapura sekitar US$ 4-5 per MMBTU, Malaysia US$ 4,47 per MMBTU, Filipina US$ 5,43 per MMBTU, dan Vietnam sekitar US$ 7,5 per MMBTU.

Dalam kesempatan tersebut, masih soal energi, pengusaha tekstil juga mengeluhkan izin pemakaian generator dari ESDM yang dianggap memberatkan pengusaha. “Kalau kita punya genset atau pembangkit sendiri harus dapat izin dari ESDM, izinnya susah. Kita pakai genset karena PLN nggak bisa kasih jaminan listrik nyala terus. Kita ngapain beli genset kalau PLN bisa jamin listriknya. Ini keresahan yang terjadi di pengusaha tekstil,” ucap Ade.

Sumber: detik.com

Related posts