Pleno Rekapitulasi Hasil Hitung Suara KPU Diwarnai Insiden Penendangan Kota Suara dan Walk Out Saksi Paslon No. 1 dan 3

 1,542 total views

Suasana Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara tingkat KPU Kota Tasik / Seda
Suasana Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara tingkat KPU Kota Tasik / Seda

Kota, Wartatasik.com – Rapat Pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat KPU Kota Tasikmalaya yang digelar di Gedung Sari Gunung Salam (SGS) Jl. SKP No. 20 Kota Tasikmalaya, Rabu (22/02), diwarnai ketegangan dan insiden penendangan kotak suara. Insiden terjadi ketika Ketua KPU Kota Tasikmalaya Cholis Mukhlis menyampaikan hasil rekapitulasi penghitungan suara yang sebelumnya dibacakan oleh PPK dari masing-masing kecamatan dan tidak diterima serta disetujui oleh saksi dari pihak Paslon No. 1 dan 3 karena dinilai tidak fair dan bermasalah.

Dalam rapat, Ketua KPU menegaskan, gelaran rapat pleno untuk memastikan penghitungan suara dari tingkat PPK yang telah masuk secara keseluruhan ke KPU. ”Jika dalam penyampaian rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat KPU ini terdapat perbedaan data, kami akan melakukan pengecekan ulang,” ujarnya. Pihaknya akan mencatat keberatan-keberatan dari para saksi dan jika solusinya bukan kewenangan KPU maka para saksi dipersilahkan untuk melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai hak dalam berdemokrasi.

Suasana rapat pleno semakin tegang, ketika para saksi dari Paslon 1 dan 3 saling berinterupsi terhadap apa yang disampaikan oleh Ketua KPU tersebut. Puncak ketegangan terjadi dissat saksi dari Paslon nomor 1 bernama Abibudin tidak menerima dan menyetujui pernyataan Ketua KPU sembari berdiri dan maju ke lalu menendang beberapa kali kota suara yang berada di depan. ”Saya tidak mempermasalahkan proses rapat plenonya, tapi mempermasalahkan ketika prosesnya bermasalah, penuh kecurangan. Menurut saya ini tidak fair, tapi semua itu harus dilegalkan dalam rapat pleno rekapitulasi,” ungkapnya.

Dirinya meminta Panwaslu dan KPU berkoordinasi dengan cermat tentang proses pemilu yang diakui bersih. “Kalau benar, Saya berterima kasih, tetapi kalau memang ada kekeliruan dan penuh kecurangan, saya tidak mungkin akam menyepakati proses-proses ini sampai kapanpun. Ini persoalan yang dipaksakan harus diakui. Saya minta, sekarang yang kita perlukan bagaimana proses itu oleh Panwas dan KPU mengakui ada pelanggaran dan kecurangan serta perkelirua. Mari kita buktikan sama-sama, agar semua pihak dapat mengetahuinya,” tutur Ia.

Saksi nomor 1 tersebut juga  menyesalkan, karena KPU tidak konsisten atas rekomendasi dari Panwaslu agar membuka kota suara yang bermasalah. Dari persoalan tersebut, akhirnya saksi Paslon 1 tidak terima dan meninggalkan tempat rapat pleno atau walk out. Aksi serupa juga dilakukan oleh pihak saksi Paslon nomor 3. Tidak menerima hasil rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara juga melakukan walk out. “Kami tim Paslon 3 tidak akan mau mengakui proses penghitungan suara, karena prosesnya banyak kecurangan dan pelanggaran yang masif,” singkat Miftah Fauzi. Berdasarkan data yang dihimpun, rapat dijaga sebanyak 310 personil keamanan.

Laporan: Seda

Related posts