Retribusi Kojengkang Naik, Pedagang: “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”

 1,950 total views

Salah seorang pedagang Pasar Kojengkang yang juga sebagai anggota PPWKD. | Foto : Seda
Salah seorang pedagang Pasar Kojengkang yang juga sebagai anggota PPWKD. | Foto : Seda

Kota, Wartatasik.com – Penarikan iuran atau dengan istilah retribusi sebesar Rp 7 ribu oleh Pengurus Paguyuban Pasar Wisata Kojengkang Dadaha (PPWKD) Kota Tasikmalaya kepada anggotanya ditanggapi beragam. Besaran retribusi yang diterapkan guna kepentingan dan kelancaran pengelolaan para anggota paguyuban tersebut dianggap memberatkan oleh sebagian pedagang.

Seperti yang dikatakan salah seorang pedagang selaku anggota dari PPWKD Abdul Rosyid (49), dirinya sangat mengeluhkan kebijakan pengurusnya yang melakukan penarikan retribusi sebesar sekian itu dengan dalih usahanya masih terbilang sepi. “Kita masih dalam kondisi yang tidak tentu. Semua kan baru saja kena relokasi. Tempat juga belum jelas ditambah jualan sepi yang dampaknya terhadap omzet terus pengurus menaikkan tarif retribusi. Sudah jatuh tertimpa tangga. Tolonglah kepada pengurus untuk bisa memikirkan solusi terbaiknya,” terang Ia, Minggu (08/05).

Begitu juga salah seorang anggota lainnya Ade Abdulrahman (51) mengungkapkan, bahwa dirinya sudah memiliki kartu anggota sehingga setiap berjualan di Hari Minggu harus menyetor uang retribusi sejumlah tersebut. “ Lamun bisa mah pengurus teh ulah waka naekeun retribusi atuh. Nungguan heula dagang stabil. Ayeuna mah boro-boro mikiran keur retribusi, duit keur ka imah oge can aya. Kuring lain embung retribusina ditaekeun tapi nungguan dagang rame heula (Kalau bisa pengurus jangan dulu menaikan retribusi. Menunggu dagangan stabil. Sekarang boro-boro mikirin retribusi, uang buat ke rumah juga belum ada. Bukannya Saya merasa tidak ingin dinaikan retribusinya tapi menunggu berjualan ramai dulu),” keluhnya.

“Kalau bisa masalah ini dimusyawarahkan dulu dengan sesama anggota biar semuanya tahu. Jangan seperti sekarang, tahunya langsung ditagih sebesar itu. Padahal sejak awal berjualan di dalam Komplek Dadaha ini retribusinya cuma dua ribu rupiah. Kalau langsung dinaikan seperti ini tentu kita keberatan,” tutur Ade.

Sementara itu saat dimintai keterangan, Ketua PPWKD Edi Hermawan menjelaskan, sebelum pihaknya menaikan tarif retribusi kepada anggotanya sudah melakukan musyawarah dan sosialisasi dengan tujuan agar para pedagang memahami alasannya. “Kita sudah memberitahukan kepada para anggota kang melalui musyawarah dan sosialisasi, jadi tidak ujug-ujug langsung kita naikkan dan juga besaran uang retribusi yang dibebankan kepada anggota tidak dipukul rata. Artinya, bagi anggota yang memang dagangannya sepi ada yang membayar 2 ribu dan juga 5 ribu rupiah. Kita tidak memaksa. Retribusi tersebut sudah dirincikan yakni untuk keperluan kas paguyuban, biaya Kartu Hijau, Kebersihan, Karang Taruna dan keamanan setempat. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi pengurus dan juga para anggota,” tandasnya. Seda

Related posts

Leave a Comment