Seminar Penguatan System Demokrasi Pancasila Bersama Hj. Nurhayati Monoarfa

 3,251 total views

Kegiatan sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara Anggota DPR/MPR RI Hj. Nurhayati Monoarfa di Kp. Cilendek Kelurahan Kota Baru Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya, Jum'at (11/03). | Foto : Dok
Kegiatan sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara Anggota DPR/MPR RI Hj. Nurhayati Monoarfa di Kp. Cilendek Kelurahan Kota Baru Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya, Jum’at (26/02). | Foto : Dok

Kota, Wartatasik.com – Anggota DPR/MPR RI Hj. Nurhayati Monoarfa melaksanakan program kerjanya dengan menggelar seminar sehari MPR RI di Yayasan Al-Muhajirin Kp. Cilendek RT 05 RW 08 Kelurahan Kota Baru Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya, Jum’at (26/02). Kegiatan bertema “Penguatan System Demokrasi Pancasila “ itu disambut antusias serta dihadiri sekitar 150 orang warga. Dalam kesempatan tersebut, Hj. Nurhayati menyampaikan bahwa setiap bangsa harus memiliki suatu konsepsi dan konsensus bersama menyangkut hal-hal fundamental bagi keberlangsungan, keutuhan dan kejayaan bangsa yang bersangkutan.

Dalam pidato di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada Tanggal 30 September 1960 lalu, Pancasila diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soekarno seraya mengingatkan tentang pentingnya konsepsi dan cita-cita bagi suatu bangsa. “Arus sejarah memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan suatu konsepsi dan cita-cita. Jika mereka tak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita itu menjadi kabur dan usang, maka bangsa itu dalam bahaya. Oleh karena itu, pada hakekatnya bangsa sebagai individu mampunyai kepribadian sendiri. Kepribadian yang terwujud dalam berbagai hal, baik dalam kebudayaan, perekonomian, watak dan lain sebagainya,” ungkap Ia dihadapan peserta.

Diterangkannya, konsepsi pokok yang melandasi semua hal terebut yakni semangat gotong royong. Ia menyampaikan kutipan Bung Karno 1 Juni 1945 yang berisi bahwa “Gotong royong adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan. Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, perjuangan bantu binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris, buat kepentingan bersama! Itulah gotong royong”.

“Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia hidup berkelompok dan membentuk masyarakat. Kelompok masyarakat berlapis-lapis dan beragam hingga terbentuklah bangsa yg beragam suku dan ras. Dengan demikian, maka pada Tanggal 28 Oktober 1928 lalu Bangsa Indonesia menyatakan dirinya sebagai suatu bangsa dengan identitasnya sendiri yaitu Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa…Indonesia. Dengan ini, diperĺukan pengorganisasian agar tidak semrawut sehingga terbentuk ketertiban meski ada konsensus atau kesepakatan-kesepakatan di dalamnya termasuk idealisme dan cita-cita bersama yg mengikat dan menyatukan,” paparnya.

Hj. Nurhayati menjelasakan, melengkapi persyaratan sebagai negara, pada Tanggal 18 Agustus 1945 terbentuk dan disahkan Undang-Undang Dasar 1945. Di dalam pembukaan Undang-undang itu disebutkan:

  1. Bahwa kemerdekaan ialah hak setiap bangsa. Penjajahan bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan karena itu mesti ditiadakan di muka bumi ini.
  2. Bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan suatu perjuangan dengan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
  3. Bahwa atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaanya, supaya dapat berkehidupan kebangsaan yang bebas yg didorong oleh keinginan luhur.
  4. Membentuk suatu pemerintah negara Indonesia dengan tujuan : Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.Kedua, memajukan kesejahteraan umum. Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa. Keempat, ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yg berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
  5. Dalam pembukaan UUD 1945 kita juga disebutkan bahwa disusunlah kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu Undang Undang Dasar negara Indonesia yg terbentuk dlm suatu susunan negara Republik Indonesia yg berkedaulatan rakyat.

“Jadi, bangsa ini sudah memenuhi persyaratan sebagai sebuah negara karena ada rakyatnya yaitu bangsa Indonesia yang disebut segenap Bangsa Indonesia dalam pembukaan UUD tadi. Lalu, ada wilayahnya yang disebut sebagai seluruh tumpah darah Indonesia. Ada Pemerintah yang disebut sebagai Pemerintah Negara Indonesia. Ada konstitusi yang mengatur bagaimana negara itu dilaksanakan, yakni UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pengakuan Internasional. Dengan demikian, secara berturut-turut seluruh negara-negara di dunia mengakui Indonesia,” tambahnya.

Dikatakannya lagi, bahwa yang membedakan suatu negara dengan negara lain adalah cita-cita, idealisme, dasar negara, bentuk negara, wilayah dan bangsa. Sekalipun demikian, lanjut Ia, sesuai tujuan bernegara yaitu antara lain ikut serta melaksanakan ketertiban dunia, maka harus saling menghormati antar bangsa dan antar negara. “Tanggal 17 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta mendeklarasikan Proklamasi Indonesia. Ketika Proklamasi itu dinyatakan, itulah untuk pertama kali dicetuskan ke hadapan bangsa-bangsa di dunia, bahwa “ini lho, kami ada, kami bangsa Indonesia,” tutur Hj. Nurhayati.

Ia memaparkan, dalam melaksanakan pemerintah negara harus berdasarkan Pancasila yakni berdasarkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan. Hal itu, katanya, merupakan esensi dari demokrasi dilaksanakan. Demokrasi atau pemerintahan rakyat (demos + kratos) yang dijalankan dengan tertib berdasarkan konstitusi yaitu UUD NRI Tahun 1945. “Mengapa kita mesti merujuk ke konstitusi kita?. Karena negara kita adalah negara hukum bukan negara kekuasaan. Negara yang harus dijalankan berdasarkan hukum. Sumber rujukan atas seluruh hukum kita adalah konstitusi kita. Atau UUD NRI Tahun 1945 adalah sumber atas seluruh hukum kita. Itulah yg menuntun kita semua tertib bernegara, berbangsa dan bermasyarakat,” ucap Ia.

“Untuk itu kita wajib mempelajari dan mengenal lebih baik konstitusi kita. Dari situ kita mengenali dasar negara Pancasila dan wajib menjiwainya dalam perilaku kita sebagai bangsa Indonesia. Selain itu, kita juga harus mengenal bahwa negara kita punya wilayah, ada batas-batas internasionalnya yang di dalamnya ada lebih dari 17 ribu pulau sehingga kita disebut negara kepulauan terbesar di dunia. Negara kita sungguh luas, maka mari kita kenali lebih baik lagi NKRI kita dengan segala kandungan isi kekayaan di dalamnya,” ajaknya.

Disamping itu juga, menurutnya, Indonesia kaya dengan adat istiadat, suku, bahasa dan agama. Meski berbeda-beda namun hal itu menjadi kekuatan untuk bersatu dan berdaulat. “Bhinneka Tunggal Ika adalah sikap keindonesiaan kita ke dalam sebagai bangsa, bangsa Indonesia. Ke luar kita mendemonstrasikan kekayaan itu sebagai bagian dari kekayaan dunia. Mari kita kenali untuk dicintai. Tak kenal maka tak sayang. Kenali dan sayangi kita semua, Pancasila, UUD Negara RI Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika,” tandasnya. Indra/Asron

 

 

 

Related posts

Leave a Comment