Kecam Narasi Saiful Munjani, Ketum RABN: Menggulingkan Pemerintah Sah Adalah Langkah Inkonstitusional

Ketua Umum Relawan Anak Bangsa Nasional (RABN) Bapak Agus Winarno SH. | Dokpri

​Jakarta, Wartatasik.com — Pernyataan pendiri SMRC, Saiful Munjani, dalam sebuah acara Halal Bihalal yang diduga berisi ajakan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, menuai reaksi keras.

Ketua Umum Relawan Anak Bangsa Nasional (RABN), Agus Winarno, menyebut tindakan tersebut sebagai preseden buruk bagi perjalanan demokrasi di Indonesia.

​Agus menilai, sebagai figur intelektual, Saiful Munjani seharusnya memberikan edukasi politik yang sehat bagi publik, bukan menciptakan kegaduhan. Menurutnya, upaya delegitimasi terhadap pemerintahan yang lahir dari proses pemilu demokratis sangatlah tidak bijak.

​”Kritik itu hak warga negara, namun menghasut untuk menjatuhkan kekuasaan yang sah adalah tindakan yang merusak kepercayaan rakyat terhadap sistem negara,” ujar Agus, Selasa (7/4/2026).

Ia juga mengapresiasi kinerja Presiden Prabowo yang tetap fokus menjaga ekonomi rakyat, seperti kebijakan tidak menaikkan harga BBM di tengah tekanan global.

Disayangkannya, jika forum Halal Bihalal yang semestinya menjadi ajang silaturahmi justru digunakan untuk agenda politik konfrontatif.

Karena itu, ia menilai narasi yang melemahkan legitimasi pemerintahan justru kontraproduktif terhadap upaya menjaga ketahanan nasional.

“Ketika negara sedang bekerja menjaga stabilitas ekonomi dan sosial, seluruh elemen bangsa seharusnya memperkuat optimisme nasional, bukan menyebarkan narasi yang memecah persatuan,” katanya.

Lebih jauh, Agus mengingatkan bahwa intelektual memiliki tanggung jawab historis sebagai penjaga moral publik. Dalam era digital yang rentan disinformasi, setiap pernyataan tokoh publik dapat berdampak luas dan membentuk persepsi kolektif masyarakat.

Ia mengajak seluruh akademisi dan tokoh masyarakat untuk mengedepankan kritik yang solutif, berbasis data, dan berorientasi pada kemajuan bangsa, bukan retorika yang memicu ketegangan politik.

“Bangsa besar tidak dibangun oleh seruan menjatuhkan, tetapi oleh gagasan memperkuat. Demokrasi Indonesia harus dijaga dengan kedewasaan berpikir dan loyalitas terhadap konstitusi,” tegasnya.

Agus kembali menegaskan bahwa stabilitas nasional merupakan fondasi utama pembangunan. Perbedaan pendapat tetap dihormati, namun harus disampaikan dalam kerangka menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Indonesia membutuhkan intelektual pemersatu, bukan provokator situasi. Kepentingan bangsa harus selalu berada di atas kepentingan politik sesaat,” pungkas Agus Winarno. Asron 

Berita Terkait