Disaat Kondisi Kritis, RSUD KHZ Musthafa Hadir ‘All Out’ Tangani Bocah Dipatok Ular Weling

Disaat Kondisi Kritis, RSUD KHZ Musthafa Hadir ‘All Out’ Tangani Bocah Dipatok Ular Weling | Ndhie

Kabupaten, Wartatasik.com – Kisah memilukan sekaligus menggugah hati datang dari Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Tasikmalaya. Dimana seorang anak berusia 12 tahun, DK, harus berjuang di ambang maut setelah dipatuk ular berbisa jenis ular belang (weling) saat sedang terlelap di lantai rumahnya.

Anak pasangan Andis Kuswara dan Siti Hindun ini dipatuk ular keling bagian tangan kananya. Awalnya tidak mengeluh sakit. Orang tua kemudian membawanya menuju tabib kampung. Dia disarankan membawanya kerumah sakit.

“Tidur di ruangan tengah rumah, tidak di ranjang. Terus anak saya bilang mah ada ular, yang dibuatkan mainan,” kata Ibu Korban, Siti Hindun di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa, Selasa (7/4/2026).

Diperjalanan korban sudah mengeluh sakit perut. Kemudian setibanya di RSUD KHZ Musthafa korban alami nyeri nelan dan sesak mafas. Dari situ korban pingsan dan langsung ditindak.

“Anak saya pingsan, aja. Sampai akhirnya cepat ditangani dan dibawa masuk ke ruangan ICU ini,” kata Siti Hindun.

Namun, di tengah situasi kritis tersebut, DK tidak berjuang sendirian. RSUD KHZ Musthafa menunjukkan komitmen kemanusiaan yang luar biasa dalam menangani DK.

Sejak tiba dengan keluhan sesak napas dan nyeri hebat, tim medis langsung bergerak cepat menempatkan DK di ruang ICU. Total sudah 10 hari korban dirawat di ruang ICU.

Direktur RSUD KHZ Musthafa, dr. Eli Hendalia, menegaskan bahwa rumah sakit memberikan upaya “all-out” demi menyelamatkan nyawa sang bocah. Pihaknya melakukan penanganan dengan menghadirkan dokter spesialis toksinologi langsung dari Bandung untuk memantau kasus langka ini.

Di saat stok menipis, tim rumah sakit rela menempuh perjalanan bolak-balik Tasikmalaya-Bandung demi menjamin ketersediaan serum anti-venom. Jika umumnya pasien hanya membutuhkan 3-4 vial anti-venom (racun ular), kondisi DK yang mengalami pelemahan otot paru-paru menuntut penggunaan hingga 50 vial.

Meski DK terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, biaya pengobatannya telah membengkak hingga menyentuh angka Rp200 juta, jauh melampaui plafon yang ditentukan. Namun, RSUD KHZ Musthafa tidak menyerah pada birokrasi.

“Kami tetap berusaha menyelamatkan jiwa, apalagi ini seorang anak. Insya Allah, rumah sakit berkomitmen. Kita akan cari solusi dana untuk menutupi kelebihan biaya tersebut demi membantu masyarakat,” tegas dr. Eli dengan penuh empati.

Perjuangan ini tidak hanya terjadi di meja operasi, tetapi juga di hati orang tua korban yang dirundung kecemasan untuk biaya sehari-hari ketika anaknya berada di rumah sakit. Memahami beban berat tersebut, BAZNAS Kabupaten Tasikmalaya segera turun tangan memberikan bantuan nyata.

Ketua BAZNAS Kabupaten Tasikmalaya, Eddy Abdul Somadi, memastikan bahwa keluarga tidak akan berjuang sendirian dalam masa sulit ini. BAZNAS memberikan bantuan biaya hidup bagi orang tua selama mendampingi DK di rumah sakit.

Pihaknya juga menyediakan tempat istirahat yang layak bagi keluarga di rumah singgah agar mereka dapat tetap bugar dan fokus mendukung kesembuhan sang anak tanpa harus memikirkan biaya penginapan.

Melalui kejadian ini, pihak rumah sakit juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada, terutama bagi yang tinggal di area persawahan. Penggunaan dipan saat tidur dan kelambu sangat disarankan untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Kini, dengan kolaborasi antara keahlian medis RSUD KHZ Musthafa dan dukungan sosial dari BAZNAS, doa dan ikhtiar terbaik terus dipanjatkan demi kesembuhan DK. Ndhie

Berita Terkait