Sebut Banyak Mahasiswa Anak Prajurit, Ketum RABN Prihatin Tamtama-Bintara Direndahkan

Ketua Umum Relawan Anak Bangsa Nasional (RABN), Agus Winarno | dokpri

Jakarta, Wartatasik.com – Menanggapi penghinaan yang dilontarkan oleh oknum mahasiswa dalam sebuah aksi unjuk rasa baru-baru ini. Ketua Umum Relawan Anak Bangsa Nasional (RABN), Agus Winarno, menyatakan keprihatinan mendalam terkait munculnya narasi yang merendahkan anggota TNI dan Polri berpangkat Tamtama serta Bintara itu.

Menurutnya, kebebasan berpendapat adalah pilar penting demokrasi. Namun, penyampaiannya harus tetap menjaga etika, menghormati martabat manusia, dan merawat semangat persatuan bangsa.

Ia menilai, ucapan yang merendahkan Tamtama dan Bintara tidak hanya melukai perasaan keluarga besar TNI-Polri, tetapi juga mencederai fondasi kehidupan bernegara. Ia mengingatkan adanya ikatan yang erat antara dunia akademik dan aparat pengaman negara.

​”Banyak mahasiswa yang sebenarnya lahir dari keluarga prajurit TNI atau anggota Polri berpangkat Tamtama dan Bintara. Sebaliknya, tidak sedikit pula anggota TNI-Polri aktif yang saat ini tengah menempuh pendidikan tinggi sebagai mahasiswa,” ungkap Agus, Jumat (19/6/2026).

​Ditegaskannya, bahwa perbedaan pandangan adalah hal lumrah. Namun, merendahkan profesi dan pengabdian seseorang sama sekali tidak mencerminkan sikap intelektual.

​Tamtama dan Bintara merupakan unsur utama pertahanan dan keamanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, mulai dari pusat kota hingga pelosok terpencil. Selama ini, kontribusi mereka nyata dalam berbagai lini kehidupan. Seperti, Aktif dalam penanggulangan bencana alam dan penyaluran bantuan sosial.

Foto: doknet

Prajurit TNI di daerah terisolasi kerap membangun jalan, jembatan, hingga sarana air bersih.

Jajaran Polri konsisten menjaga kamtibmas dan membangun komunikasi harmonis dengan warga.

​Pemerintah sendiri mengakui bahwa stabilitas keamanan yang dijaga oleh TNI-Polri adalah fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi.

​Meski menyayangkan penghinaan tersebut, Agus menegaskan bahwa ruang kritik terhadap institusi negara tidak pernah tertutup. Kritik yang objektif dan berbasis data justru diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme instansi.

​”Kritik harus disampaikan secara santun dan beradab, bukan lewat cercaan yang memecah belah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu cara menghargai pengabdian,” pungkasnya.

​Pada akhirnya, esensi pengabdian tidak diukur dari riuh narasi di ruang publik, melainkan dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Ribuan personel TNI-Polri di seluruh pelosok negeri akan terus berdiri tegak untuk melindungi, melayani, dan mengayomi seluruh rakyat Indonesia. Asron

Berita Terkait