Dosen Unsil Hadirkan Teknologi Pengukur Tinggi Badan Balita Berbasis Kamera di Posyandu Tasikmalaya

Tim dosen dan mahasiswa Universitas Siliwangi mendampingi kader Posyandu Selaawi menggunakan aplikasi pengukuran tinggi badan balita berbasis pengolahan citra, di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sangkali, Kota Tasikmalaya | Foto: Dok. Tim PKM Unsil

Kota, Wartatasik.com — Tim dosen Universitas Siliwangi (Unsil) menerapkan aplikasi pengukuran tinggi badan anak berbasis pengolahan citra secara contactless di Posyandu Selaawi, wilayah kerja UPTD Puskesmas Sangkali, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Dengan teknologi ini, tinggi badan balita dapat diperkirakan hanya melalui pemotretan tubuh anak menggunakan kamera telepon pintar, tanpa perlu menempelkan alat ukur konvensional.

Kegiatan yang berlangsung pada 9 Juli 2026 tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif Universitas Siliwangi Tahun 2026 skema Program Penerapan Iptek Berbasis Masyarakat (PPIBM). Program ini diketuai oleh Dr. Iseu Siti Aisyah, S.P., M.Kes., dengan anggota tim Luh Desi Puspareni, M.Gz., Siti Pitrianti, M.Pd., Muhammad Al-Husaini, S.T., M.Kom., Hen Hen Lukmana, M.Kom., dan Muhammad Sidik Asyaky, M.T. serta melibatkan sejumlah mahasiswa dalam pendampingan di lapangan.

Selama ini, pengukuran tinggi badan balita di Posyandu masih dilakukan secara manual menggunakan microtoise, sehingga hasilnya sangat bergantung pada keterampilan kader, posisi tubuh anak, dan ketelitian pembacaan skala.

Pengukuran awal (baseline) yang dilakukan tim terhadap 15 balita dengan melibatkan enam kader menunjukkan rata-rata selisih hasil ukur antarkader mencapai 1,84 cm, dengan selisih tertinggi 3,40 cm. Sebanyak 35 persen anak memiliki selisih hasil lebih dari 2 cm, sementara rata-rata waktu pengukuran per anak mencapai 3,6 menit.

“Tinggi badan adalah salah satu indikator utama pemantauan pertumbuhan dan deteksi dini stunting. Ketika hasil ukur berbeda-beda antarpetugas, interpretasi kondisi pertumbuhan anak bisa keliru dan penanganannya menjadi terlambat. Karena itu kami menghadirkan alat bantu yang membuat pengukuran lebih konsisten, cepat, dan mudah dicatat,” ujar Ketua Tim, Dr. Iseu Siti Aisyah, S.P., M.Kes.

Aplikasi yang diterapkan dapat dijalankan pada telepon pintar berkamera. Alur kerjanya sederhana, kader memilih data anak, mengarahkan anak pada posisi yang telah ditentukan, lalu memotret tubuh anak. Sistem kemudian memproses citra untuk mendeteksi titik-titik tubuh dan menampilkan estimasi tinggi badan dalam satuan sentimeter, lengkap dengan indikator dukungan untuk mengenali anak berisiko stunting. Hasil tersebut selanjutnya divalidasi dan dicatat kader sesuai alur layanan Posyandu.

Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada penyediaan teknologi. Program dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu sosialisasi kepada mitra, pelatihan penggunaan aplikasi kepada kader, penerapan teknologi pada layanan Posyandu, pendampingan dan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan.

Dalam pelatihan, para kader tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mempraktikkan penggunaan aplikasi dengan didampingi tim, disertai panduan operasional atau Standar Operasional Prosedur (SOP) sederhana sebagai rujukan.

Sebanyak 7 orang kader Posyandu Selaawi mengikuti pelatihan tersebut. Hasil dari kegiatan tersebut, lebih dari 80 persen peserta dinilai mampu mengoperasikan aplikasi secara mandiri berdasarkan lembar penilaian keterampilan. Antusiasme kader terlihat dari keaktifan mereka mencoba aplikasi dan bertanya seputar teknis pengambilan gambar, seperti pengaturan jarak, pencahayaan, dan posisi anak.

Tim dosen dan mahasiswa Universitas Siliwangi mendampingi kader Posyandu Selaawi menggunakan aplikasi pengukuran tinggi badan balita berbasis pengolahan citra, di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sangkali, Kota Tasikmalaya | Foto: Dok. Tim PKM Unsil

Kontribusi

Pengabdian yang dilakukan Unsil Tasikmalaya diharapkan dapat terus berkontribusi, terutama dalam peningkatan kompetensi kader Posyandu agar mampu memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pemantauan pertumbuhan anak yang lebih akurat dan berkelanjutan.

“Kegiatan ini sangat membantu kami. Prosesnya jadi lebih praktis, dan kami merasa lebih percaya diri dalam mencatat hasil pengukuran anak,” ungkap salah satu kader Posyandu Selaawi, Ibu Nia.

Untuk menjaga keberlanjutan, tim membentuk kader inti sebagai penggerak internal, menyerahkan SOP penggunaan aplikasi, serta menyiapkan pencatatan penggunaan melalui log sederhana. Tim juga akan melakukan pemantauan pascaprogram dan membuka peluang replikasi ke Posyandu lain di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sangkali di bawah pembinaan Puskesmas.

Dr. Iseu menambahkan, program ini merupakan bentuk hilirisasi hasil riset tim di bidang pengolahan citra, kecerdasan buatan, dan sistem informasi kesehatan anak untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Good Health and Well-being dan Partnerships for the Goals, melalui kolaborasi perguruan tinggi, Puskesmas, dan Posyandu.

“Harapannya, teknologi sederhana ini bisa menjadi pintu masuk transformasi digital layanan kesehatan dasar dan dapat direplikasi di Posyandu lain, sehingga pemantauan pertumbuhan anak menjadi lebih akurat dan tepat sasaran,” pungkasnya. Red

Berita Terkait