Tak Diundang di Hari Santri, GP Ansor Kota Tasik: Kami Santri Mbah Hasyim, Bukan Santri Pemkot!

Bendahara GP Ansor Kota Tasikmalaya, Habib Qosim Nurwahab | Red

Kota, Wartatasik.com – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kota Tasikmalaya menyoroti penyelenggaraan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang digelar oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya. Sorotan tersebut mencuat usai GP Ansor tidak dilibatkan maupun diundang dalam kegiatan resmi Pemkot tersebut.

Bendahara GP Ansor Kota Tasikmalaya, Habib Qosim Nurwahab, menegaskan bahwa GP Ansor merupakan organisasi badan otonom pemuda Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki keterikatan sejarah kuat dengan perjuangan para ulama, khususnya Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari.

Menurut Habib Qosim, Hari Santri pada hakekatnya bukan sekadar agenda seremonial tahunan pemerintah, melainkan momentum historis untuk menghormati perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga keutuhan NKRI.

“Kami ini santri KH. Hasyim Asy’ari, bukan santri Pemkot Tasik. Jangan sampai peringatan Hari Santri justru membuat organisasi dan kalangan santri yang memiliki sejarah panjang perjuangan keumatan merasa terabaikan,” tegas Habib Qosim.

Ia menilai, peringatan Hari Santri sepatutnya menjadi ruang inklusif dan wadah kebersamaan bagi seluruh elemen pesantren, organisasi keagamaan, serta komunitas santri di Kota Tasikmalaya, tanpa membeda-bedakan latar belakang atau kedekatan dengan lingkaran kekuasaan.

Sebab, lanjut Habib, semangat Hari Santri harus diwujudkan melalui penghormatan terhadap akar sejarah, prinsip keterbukaan, serta pelibatan aktif seluruh pihak yang nyata berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

Ia berharap Pemkot Tasikmalaya melakukan evaluasi menyeluruh agar penyelenggaraan acara serupa di masa mendatang lebih merangkul dan mampu merepresentasikan keberagaman komunitas santri di Kota Tasikmalaya.

“Selamat Hari Santri Nasional. Semoga undangan tahun depan lebih luas lagi, bukan hanya bagi mereka yang dekat dengan kekuasaan, tetapi juga untuk mereka yang dekat dengan perjuangan. Sebab sejarah santri tidak ditulis berdasarkan daftar tamu undangan,” sindirnya.

Ia kembali mengingatkan agar makna substansial Hari Santri tidak tergerus oleh formalitas semata.

“Jangan sampai Hari Santri hanya menjadi kegiatan seremonial. Semangatnya harus mencerminkan penghormatan tulus kepada para ulama, pesantren, dan seluruh santri yang selama ini konsisten menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya. Red

Berita Terkait