
Kota, Wartatasik.com – Kompleks Perkantoran Bale Kota Tasikmalaya yang seharusnya menjadi cerminan keindahan, kerapian, serta pusat estetika perkotaan justru menampilkan pemandangan yang kontras. Lapangan utama yang berada di jantung perkantoran pemerintah daerah tersebut tampak kering kerontang, tandus, dan berdebu akibat minimnya perawatan di tengah musim kemarau.
Kondisi ini memicu kritik tajam, mengingat kawasan Bale Kota merupakan “etalase” utama Kota Tasikmalaya. Terlebih, lokasi ini setiap harinya menjadi pusat aktivitas pelayanan publik, termasuk Mal Pelayanan Publik (MPP) yang dikunjungi oleh ratusan hingga ribuan warga dari berbagai penjuru daerah.
Salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berdinas di lingkungan Kompleks Bale Kota mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam atas kondisi tersebut. Ia menyayangkan sikap abai yang terkesan dibiarkan oleh pihak berwenang.
“Jangan sampai karena alasan efisiensi, rumput di lapangan ini ikut tidak terawat. Sekelas Bale Kota ngurus rumput saja tidak sanggup. Meskipun kemarau, tapi rumput jangan ikut kemarau juga. Jaga keindahan etalase Kota Tasikmalaya,” ujar ASN tersebut dengan nada kecewa, seraya meminta namanya dirahasiakan, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, kondisi tandus dan berdebu ini sebenarnya sangat bisa dihindari apabila instansi terkait memiliki komitmen kuat terhadap pemeliharaan fasilitas publik. Perawatan rutin seperti penyiraman berkala dinilai sudah cukup untuk menjaga kelembapan tanah dan kesegaran rumput.
“Ini tidak bakalan terjadi jika ada perawatan dan pemeliharaan rutin, seperti penyiraman minimal sehari sekali. Insyaallah, rumput atau kontur tanah tidak akan mengeluarkan debu dan gersang,” tambahnya.
Sebagai kota yang mengusung semangat kebersihan dan kerapian yang kerap digaungkan melalui program-program penataan kota kondisi Lapangan Bale Kota ini tentu menjadi catatan merah yang ironis. Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Dinas terkait didesak untuk segera mengambil langkah taktis, bukan sekadar menunggu musim penghujan tiba.
Dengan fasilitas dan kapasitas anggaran yang dimiliki oleh pemerintah daerah, penyediaan sarana penunjang perawatan seperti sistem penyiraman otomatis atau pengadaan tangki air darurat semestinya bukan hal yang sulit untuk direalisasikan.
Kritik ini murni disampaikan sebagai bentuk kecintaan terhadap Kota Tasikmalaya agar wajah pelayanan publik di pusat pemerintahan tidak tercoreng oleh hal-hal sepele yang luput dari perhatian. Sudah saatnya Pemkot Tasikmalaya membuktikan bahwa slogan kota yang resik, hijau, dan nyaman bukan sekadar wacana, melainkan tercermin nyata mulai dari halaman depan kantor mereka sendiri. Asron
