Malam Nisfu Syaban Tiba, Berikut Doa dan Amalan Pentingnya yang Perlu Diperhatikan

 28,560 total views

Ilustrasi | Net

Tepat pada Sabtu (20/4/2019) hingga Minggu (21/4/2019) merupakan malam Nisfu Syaban atau yang biasa disebut sebagai malam pengampunan dosa.

Referensi, Wartatasik.com Malam Nisfu Syaban merupakan peringatan pada tanggal 15 bulan kedelapan dari kalender Islam.

Malam Nisfu Syaban akan dimulai pada Sabtu (20/4/2019) malam ini hingga Minggu (21/4/2019). Malam yang biasa disebut sebagai malam pengampunan dosa, malam berdoa dan malam pembebasan.

Dikutip dari Nu.or.id, hal tersebut didasarkan pada 1 Syaban 1440 H bertepatan dengan Minggu Pahing (mulai malam Minggu) 7 April 2019 Miladiyah.

Anjuran untuk menghidupkan malam nisfu Syaban disampaikan sejumlah hadits.

Diantaranya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam kitab Madza fi Syaban merinci, setidaknya ada tiga amalan penting yang bisa dilakukan pada malam nisfu syaban.

Berikut tiga amalan penting yang bisa dilakukan pada malam Nisfu Syaban:

1. Perbanyak Doa

Anjuran ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Bakar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

ينزل الله إلى السماء الدنيا ليلة النصف من شعبان فيغفر لكل شيء، إلا لرجل مشرك أو رجل في قلبه شحناء

“(Rahmat) Allah SWT turun ke bumi pada malam nisfu Sya’ban. Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian (kemunafikan),” (HR Al-Baihaqi).

2. Membaca Dua Kalimat Syahadat Sebanyak-banyaknya

Sayyid Muhammad bin Alawi mengatakan:

وينبغي للمسلم أن يغتنم الأوقات المباركة والأزمنة الفاضلة، وخصوصا شهر شعبان وليلة النصف منه، بالاستكثار فيها من الاشتغال بكلمة الشهادة “لا إله إلا الله محمد رسول الله”.

“Seyogyanya seorang muslim mengisi waktu yang penuh berkah dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammad Rasululullah, khususnya bulan Sya’ban dan malam pertengahannya.”

3. Perbanyak Istighfar

Tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa dan salah.

Hal itulah manusia yang kesehariannya bergelimang dosa dan salah.

Namun kendati manusia berdosa, Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan kepada siapa pun.

Karenaya, meminta ampunan (istighfar) sangat dianjurkan terlebih lagi di malam nisfu Sya’ban.

Sayyid Muhammad bin Alawi menjelaskan:

الاستغفار من أعظم وأولى ما ينبغي على المسلم الحريص أن يشتغل به في الأزمنة الفاضلة التي منها: شعبان وليلة النصف، وهو من أسباب تيسير الرزق، ودلت على فضله نصوص الكتاب، وأحاديث سيد الأحباب صلى الله عليه وسلم، وفيه تكفير للذنوب وتفريج للكروب، وإذهاب للهموم ودفع للغموم

“Istighfar merupakan amalan utama yang harus dibiasakan orang Islam, terutama pada waktu yang memiliki keutamaan, seperti Sya’ban dan malam pertengahannya.

Istighfar dapat memudahkan rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits.

Pada bulan Sya’ban pula dosa diampuni, kesulitan dimudahkan, dan kesedihan dihilangkan.”

Membaca Surat Yasin Sebanyak 3 Kali

Adapun aktivitas masyarakat di malam nisfu Sya’ban yang membaca Surat Yasin 3 kali yang kemudian juga diiringi dengan permintaan berupa keberkahan pada umur, harta, dan hajat-hajat lainnya tidak perlu dipersoalkan karena memang tidak ada masalah secara syar’i di situ.

Yang dibaca adalah salah satu surat di dalam Al-Quran dan pihak yang diminta juga tidak lain adalah Allah SWT.

Mereka juga meminta yang baik-baik untuk kemaslahatan dunia dan akhirat baik pribadi maupun kepentingan umum.

Hal ini dijelaskan dengan detil oleh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki berikut ini:

“Tapi tak ada larangan bagi seseorang yang mengiringi amal salehnya dengan permintaan dan permohonan hajat agama dan dunia, jiwa dan raga, lahir dan batin. Siapa saja yang membaca Surat Yasin atau surat lainnya dengan ikhlas lillahi ta‘ala sambil memohon keberkahan pada usia, harta, dan kesehatan, maka hal itu tak masalah. Artinya, orang ini telah menempuh jalan yang baik (dengan catatan ia tidak meyakini bahwa amal salehnya itu disyariatkan secara khusus untuk hajat tersebut).

Bacalah Surat Yasin 3 kali, 30 kali, 100 kali, atau mengkhatamkan 30 juz Al-Quran secara ikhlas lillahi ta’ala diiringi dengan permohonan atas segala hajat, doa agar harapan terwujud, permintaan agar dibukakan dari kebimbangan, pengharapan agar dibebaskan dari kesulitan, permohonan kesembuhan dari penyakit, permintaan kepada Allah agar utang terbayar. Lalu di mana masalahnya?

Allah senang terhadap hamba-Nya yang bermunajat kepada-Nya atas pemenuhan hajat apapun termasuk hajat atas garam pelengkap masakan dan hajat atas tali sandal yang rusak,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban? cetakan pertama, 1424 H, halaman 119). Tribunnews.com | Wartatasik.com

Related posts