Menjahit Kembali Sanad Pergerakan: Saat Alumni dan Kader PMII INUTAS Bicara Hati dan Akal

Menjahit Kembali Sanad Pergerakan: Saat Alumni dan Kader PMII INUTAS Bicara Hati dan Akal | dokpri

Kota, Wartatasik.comDi bawah naungan atap Kampus 1 Institut Nahdlatul Ulama (INU) Tasikmalaya, sebuah garis sejarah kembali ditarik lurus. Minggu (26/04), bukan sekadar pertemuan biasa, ratusan kader dan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berkumpul untuk sebuah misi besar, menjahit kembali “sanad” atau garis keturunan perjuangan yang sempat terpisah oleh jarak dan waktu.

Agenda bertajuk “Silaturahmi & Halal Bihalal Lintas Generasi” ini menjadi jembatan emosional yang menghubungkan para perintis angkatan pertama hingga penerus estafet kepemimpinan di angkatan ke-14.

Kehadiran Rektor INU Tasikmalaya, Dr. H. Pepep Puad Muslim, M.Si., memberikan bobot moral yang tinggi pada acara tersebut. Baginya, PMII bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan laboratorium besar yang konsisten mencetak kader penjaga nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan di lingkungan kampus INUTAS.

Ketua Komisariat PMII INUTAS, Wipa Aryandin Farhatussaadah, dalam orasi singkatnya menekankan bahwa kekuatan PMII tidak diukur dari angka-angka administratif. “Kekuatan kita ada pada kedekatan emosional dan kesetiaan ideologis yang terjaga antar-generasi,” tegasnya di hadapan para hadirin.

Momen paling berkesan muncul saat sesi sarasehan. Ruang diskusi berubah menjadi samudera pengalaman ketika perwakilan setiap angkatan mulai bercerita. Dari kisah perjuangan “berdarah-darah” membangun organisasi di masa awal, hingga keberhasilan para alumni yang kini tersebar di berbagai lini profesional mulai dari politisi handal, akademisi kritis, hingga penggerak ekonomi kerakyatan.

Diskusi ini membuktikan satu hal: PMII INUTAS telah berhasil menjadi kawah candradimuka yang melahirkan tokoh-tokoh moderat yang kompeten di bidangnya namun tetap membumi dalam karakter.

Di pengujung acara, Salman Faisal selaku Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Rayon Syekh Abdul Ghorib, menyampaikan laporan yang reflektif. Ia mengingatkan bahwa soliditas hari ini adalah modal utama untuk kebangkitan PMII INU yang lebih progresif di masa depan.

Salman menutupnya dengan mengutip prinsip abadi dari filsuf Aristoteles: “Educating the mind without educating the heart is no education at all”—mendidik akal tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali.

Pesan ini seolah menjadi lonceng pengingat bagi seluruh kader; bahwa intelektualitas tanpa kepekaan nurani hanyalah kesia-siaan. PMII INU Tasikmalaya kini menatap masa depan dengan optimisme baru, membawa harapan bahwa kader-kadernya akan terus menjadi motor perubahan yang memberikan manfaat nyata bagi umat dan bangsa. Red.

#Wartatasik, #PMIIINUTAS, #SanadPergerakan, #SilaturahmiLintasGenerasi, #AktivisTasik, #PergerakanMahasiswa, #INUTAS, #NahdlatulUlama, #TasikmalayaNews, #MendidikDenganHati,

Berita Terkait