
Muhammad Alwi Lolos Paduan Suara Istana, Wawali Diky Candra Ajak Pengusaha Tasikmalaya ‘Adopsi’ Talenta Lokal..
Kota, Wartatasik.com – Kabar membanggakan datang dari panggung seni nasional. Muhammad Alwi, pemuda berbakat asal Kota Tasikmalaya, resmi terpilih mewakili Provinsi Jawa Barat dalam ajang bergengsi Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026.
Alwi dijadwalkan akan tampil dalam tim paduan suara nasional pada Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara, Agustus mendatang.
Capaian ini sekaligus mengakhiri “puasa” perwakilan Kota Tasikmalaya di GBN tingkat nasional selama empat tahun terakhir, setelah terakhir kali mengirimkan perwakilannya pada tahun 2022 lalu.
Prestasi gemilang ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candra. Di tengah kondisi fiskal daerah yang sedang mengalami keterbatasan, kehadiran prestasi ini menjadi angin segar sekaligus pembukti bahwa potensi anak muda Tasikmalaya tetap hidup dan bersaing di level tertinggi.
“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Muhammad Alwi yang berhasil mewakili Jawa Barat di tingkat nasional. Ini bukti anak-anak Tasik punya kualitas. Terima kasih juga kepada Pak Kepler Sianturi dan para pembina yang konsisten melatih,” ujar Diky Chandra, Selasa (7/7/2026).
Keberhasilan Alwi menembus Istana Negara bukanlah hasil instan. Alumni SMAN 10 Tasikmalaya yang kini berstatus mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) ini, telah berproses keras selama empat tahun di bawah bimbingan langsung Kepler Sianturi di LKP Symphony Music School.
Diky Candra mengibaratkan tugas Alwi di Istana setara dengan anggota Paskibraka, yakni mengemban misi besar membawa dan mengharumkan nama daerah di panggung kenegaraan.
Berkaca dari momen Muharam, Diky kemudian merefleksikan pelajaran dari Rasulullah SAW saat mengkolaborasikan kaum Muhajirin yang ahli berdagang dengan kaum Anshor sebagai pemilik modal di Madinah.
“Alwi dan teman-teman adalah aset. Tugas kita, baik pemerintah maupun masyarakat, adalah menjadi ‘Anshor’ yang mendukung. Jangan sampai talenta-talenta terbaik kita padam hanya karena minimnya fasilitas,” tegas Wawali.
Ia juga mengakui masih banyak warga berprestasi di Tasikmalaya yang belum terdengar di permukaan. Menurutnya, pemerintah daerah memiliki pekerjaan rumah (PR) besar untuk memetakan dan merespons cepat potensi-potensi tersebut agar bisa diberikan apresiasi dan motivasi yang layak.
Lebih lanjut, Diky menekankan bahwa sebuah prestasi tidak bisa tumbuh sendirian melainkan membutuhkan ekosistem yang matang, mulai dari panggung apresiasi, beasiswa, hingga sponsor.
Di saat APBD daerah terbatas, peran agnia (orang kaya), pelaku usaha, dan komunitas menjadi kunci utama penggerak kemajuan.
“Bayangkan kalau setiap pengusaha Tasikmalaya mau ‘mengadopsi’ satu talenta. Ada yang membiayai les, menyediakan tempat latihan, atau membantu promosi. Dampaknya akan luar biasa untuk kemajuan kota,” harapnya.
Menutup keterangannya, Diky berharap kesuksesan Alwi mampu memicu lahirnya semangat baru bagi generasi muda lainnya di Tasikmalaya.
“Kita butuh lebih banyak sosok seperti Pak Kepler selaku Pembina dan Guru di LKP Symphony Music School Tasikmalaya yang mau konsisten membina, butuh lebih banyak Alwi yang mau berjuang, dan butuh lebih banyak warga yang siap memberikan dukungan. Prestasi anak Tasik di Istana harus jadi pengingat, kemajuan kota tidak hanya bersumber dari anggaran, melainkan dari kolaborasi kita semua,” pungkasnya. Asron
