Ironis, Warga Cigeureung Belakang Puskesmas Meninggal Dunia Akibat DBD

294 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Ilustrasi | Net

Kota, Wartatasik.com Ironis memang anak berinisial IK (6) harus meregang nyawa karena penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit dr Soekardjo ini ternyata anak dari pasangan Eti Sumiati (39) dan Mumu (40) tempat tinggalnya tidak jauh dari Puskesmas Cigeureung, tepatnya di belakang pusat kesehatan masyarakat tersebut.

Berdasarkan penelusuran crew wartatasik.com bahwa benar adanya rumah IK itu yang beralamat RT/RW: 02/10 Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya dan berdekatan dengan Puskesmas.

Ditemui dikediamannya, ibu korban Eti Sumiati menuturkan, IK pertama kali terserang sakit pada malam Kamis, panasnya tinggi, “Langsung saya berikan obat warung, tapi masih panas, dikira panas biasa, panas reda lagi panas lagi,” jelasnya, Senin (15/04/2019).

Ibu korban DBD Eti Sumiati | Blade

Ia lantas membawa putrinya itu ke mantri kesehatan. Disana diberikan resep obat, kata Eti, obat yang dari mantri juga habis di minum sama anak saya.

“Hari Sabtunya pas sudah habis obat, badannya langsung dingin kirain saya sembuh, cuma kata anak saya dingin-dingin, pas hari Minggu anak saya badannya lemas jantungnya berdebar, hari itu juga langsung dibawa ke RSUD dr. Sokerdjo,” katanya.

Eti mengatakan IK meninggal dunia pada hari Rabu tanggal 10 April, jam 04:30 pagi di RSUD dr Soekardjo.

Sementara itu, salah seorang kader Posyandu Ai mengatakan, dirinya mengantar IK ke rumah sakit, “Sesampainya disana pihak rumah sakit memberitahukan bahwa kondisi korban sudah masuk level tiga,” terangnya.

Kepala Puskesmas Cigeureung Ajang Karyawan | Blade

“Dan pas saya lihat waktu mengambil sampel darahnya sudah hitam, kalau minum muntah lagi, dehidrasi kurang cairan. Selama IK berada di RSUD satu hari di IGD, dua hari di ruangan PICU dan akhirnya nyawanya tak bisa tertolong lagi,” sesalnya.

Ditemui kepala Puskesmas Cigeureung, Ajang Karyawan mengatakan korban yang meninggal akibat demam berdarah itu terlambat dibawa ke Puskesmas, “Memang kata ibu korban, panasnya sudah turun. Namanya pasien di keluarga kan panas turun itu sembuh. Padahal itu masa krisisnya, soalnya kalau yang lain langsung dibawa ke Puskesmas bisa terdeteksi dan bisa di antsipasi sedini mungkin,” ujarnya.

Ajang menegaskan bahwa pihaknya dari Puskesmas tidak bosan-bosannya memberikan penyuluhan, “Bahkan sebulan yang lalu didaerah sana sudah dilaksanakan pengasapan atau fogging,” tandasnya. Blade

Related posts