Kemendikdasmen dan H. Ferdiansyah Bekali Guru di Tasikmalaya Jadi Duta Bahasa Menuju 2045

Kemendikdasmen dan H. Ferdiansyah Bekali Guru di Tasikmalaya Jadi Duta Bahasa Menuju 2045 | Asron

Kota, Wartatasik.com – Sebanyak 200 peserta yang terdiri dari guru SD, SMP, SMA, penulis, hingga pegiat bahasa se-Kota dan Kabupaten Tasikmalaya mengikuti Diseminasi Program Bidang Kebahasaan dan Kesastraan. Kegiatan yang digagas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen bersama Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, S.E., M.M., yang digelar di Hotel Horison Tasikmalaya, Senin (27/07/2026).

Acara dipandu dalam dua sesi dan menjadi ruang penguatan kapasitas bagi para pendidik agar mampu murenahkeun (menempatkan) penggunaan bahasa secara bijak dan proporsional.

Dalam kesempatan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hidayat Widiyanto, S.S., M.Pd., menyampaikan empat program prioritas Badan Bahasa yang terus digencarkan ke masyarakat. Diantaranya,  Penguatan Literasi, Pemaslahatan Bahasa, Perlindungan Bahasa Daerah dan Penginternasionalan Bahasa Indonesia

Hidayat juga memaparkan ragam produk dan layanan pengembangan serta pembinaan bahasa yang dapat diakses publik, di antaranya Budi (Buku Digital), KBBI, UKBI, EYD, SPAI, Ensiklopedia, hingga Penjaring.

Selain itu, pihaknya tengah menyiapakan sejumlah rangkaian kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra pada Oktober mendatang, seperti penganugerahan Penghargaan Sastra, AdiBahasa, dan berbagai agenda kebahasaan lainnya.

Sementara itu, Sekretaris Badan Bahasa Kemendikdasmen, Dr. Ganjar Harimansyah, menegaskan bahwa pembinaan sikap berbahasa masyarakat masih perlu terus dibimbing dan dikembangkan.

Menurutnya, bahasa yang santun merupakan instrumen penting dalam komunikasi dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Saat mengajar atau berpidato di muka umum, gunakan Bahasa Indonesia formal. Namun saat situasi santai, tidak masalah menggunakan bahasa daerah atau nonformal,” ujar Ganjar.

Ia menyoroti kebiasaan masyarakat Sunda yang sering gado-gado atau mencampuradukkan bahasa. “Guru diharapkan mampu murenahkeun bahasa sesuai kondisi dan situasi. ‘Baik’ itu sesuai kondisi tempat dan lawan bicara, sedangkan ‘benar’ itu sesuai dengan kaidah,” jelasnya.

Anggota Komisi X DPR RI, H. Ferdiansyah, S.E., M.M., membeberkan tiga tujuan utama diseminasi ini: memahami fungsi Bahasa Indonesia sebagai pengantar pendidikan, menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta menegakkan bahasa sebagai simbol kedaulatan negara.

Ia menargetkan Bahasa Indonesia bisa masuk dalam 5 besar bahasa paling banyak digunakan di dunia pada tahun 2045.

“Saat ini pengguna Bahasa Indonesia mencapai 199 juta jiwa. Potensi ini bisa diperkuat dengan mengapitalisasi kekayaan kosakata bahasa daerah di ASEAN seperti Sunda, Jawa, Minang, Batak, dan Bugis ke dalam Bahasa Indonesia,” ungkap Ferdiansyah.

Ia juga mendorong sinergi diaspora dan Badan Bahasa untuk membentuk komunitas “Kampung Indonesia” di luar negeri.

Dipilihnya figur guru, penulis, dan media sebagai peserta merupakan langkah strategis. Guru berperan sebagai sosok yang digugu dan ditiru, sementara media dan penulis bertugas mewara-warakan pentingnya berbahasa yang tertib.

Apresiasi tinggi datang dari Sekretaris Forum Guru Menulis (Forum Gumeulis) Kota Tasikmalaya sekaligus Kepala SDN 1 Gunungpereng, Dr. Irvan Kristivan, M.Pd. Ia menyebut kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus pemantik semangat berkarya bagi para pendidik.

“Di Tasikmalaya ada lebih dari 200 guru, kepala sekolah, dan pengawas yang aktif menulis. Sekitar 40 anggota Forum Gumeulis turut hadir. Kami berharap kegiatan ini bisa berkesinambungan dan merangkul komunitas literasi lain seperti TBM, Jelita, Formalista, serta Forum Literasi Perempuan dan Pelajar,” harap Irvan.

Melalui pembekalan ini, para peserta diharapkan dapat menjadi Duta Kebahasaan di lingkungannya masing-masing, menularkan pemahaman bahasa yang baik dan benar kepada para siswa demi mencetak generasi emas 2045. Asron

Berita Terkait