MICE sebagai Pariwisata Bisnis di Masa Pandemi

 14,078 total views

Fina Noviyanti Mulyani | dokpri

Referensi – Pada saat ini seluruh dunia termasuk Indonesia sedang mengalami krisis sosial dan ekonomi akibat pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Pandemi ini benar-benar sudah mengubah tatanan sosial ekonomi masyarakat, masyarakat harus menjalani karantina selama berbulan-bulan di dalam rumah karena kegiatan sosial yang di batasi. Hal itu menyebabkan masyarakat mengalami konflik sosial internal maupun eksternal yang berasal dari lingkungannya.

Konflik sosial internal yang timbul adalah masyarakat mengalama stress karena lebih banyak berdiam diri di rumah dan kurang menghirup udara segar dari luar, seperti berwisata. Sedangkan konflik eksternal yang timbul adalah masyarakat menjadi individualis karena kurang berbaur dengan masyarakat lain akibat adanya social distancing dan physical distancing. Pandemi ini juga menimbulkan krisis ekonomi, terutama pada sektor pariwisata. Pandemi sangat berdampak pada industri pariwisata, salah satunya adalah MICE.

Industri Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition atau dikenal dengan industri  MICE merupakan suatu jenis kegiatan pariwisata di mana suatu kelompok besar, biasanya direncanakan dengan matang, berangkat bersama untuk suatu tujuan tertentu. Industri wisata MICE biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang akan melakukan kerjasama atau melakukan kegiatan tertentu dan orang-orang kreatif yang mengadakan pameran hasil karya terbaik. MICE memiliki peran penting bagi perekonomian dan pariwisata, terutama di masa pandemi saat ini.

Karantina dalam kurun waktu yang lama membuat masyarakat jenuh dan bosan, sehingga melakukan perjalanan wisata merupakan alternatif yang tepat untuk menghilangkan kejenuhan tersebut namun tetap harus selalu memperhatikan protokol kesehatan. Biasanya masyarakat lebih banyak melakukan perjalanan wisata untuk sekedar menghilangkan stress, menjauhi keramaian kota, dan berbelanja. Namun pada masa pandemi, konsumsi kultural masyarakat cenderung ke arah bisnis yang dapat memperbaiki perekonomian mereka yang menurun dan terpuruk akibat pandemi ini. Pada saat ini masyarakat kemungkinan besar memilih pariwisata bisnis, seperti MICE.

Usaha rintisan (startup) asal Hong Kong EvenXtra yang sejak 2014 memfasilitasi para penyelenggara acara dan partisipan lewat solusi platform manajeman acara secara menyeluruh. Startup yang pendanaanya didukung UB Ventures asal Jepang itu, melahirkan solusi berupa Virtual Exhibition . Co-Founder EvenXtra Sum Wong mengatakan, Virtual Exhibition mampu memberikan pengalaman interaktif dan menunjukan data analisis dengan lebih efisien. Dalam masa pandemi ini industri MICE  sangat dibutuhkan oleh masyarakat, mereka dapat melakukannya secara offline dengan memperhatikan protokol kesehatan. Namun, alangkah lebih baik dilakukan secara online, seperti gagasan yang dikeluarkan oleh urintisan (startup) asal Hong Kong EvenXtra.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf, Rizki Handayani juga mengatakan bahwa orang-orang Indonesia sangat kreatif dalam mengembangan industri MICE dengan inovasi-inovasi baru sebagai dampak dari pandemic Covid-19. Berdasarkan data forwardkeys, kunjungan wisatawan dengan tujuan bisnis pada bulan Juni menunjukan peningkatan yang cukup baik, sehingga aktivitas industri MICE kembali aktif. Hal ini berkaitan dengan konsumsi kultural masyarakat yang mulai mengedepankan pariwisata untuk bisnis daripada hanya sekedar hiburan dan belanja.

Berdasarkan informasi dan fakta di atas, pariwisata bisnis melalui industri MICE pada masa pandemi membuat masyarakat dapat melakukan bisnis dengan wisata. Masyarakat dapat melakukan kegiatan MICE dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ada ataupun secara virtual, seperti ide dari Usaha rintisan (startup) asal Hong Kong EvenXtra agar industri MICE selalu menjadi trend di kalangan masyarakat. Dengan demikian, industri MICE dapat membantu bangkitnya industri pariwisata dan perekonomian yang terpuruk selama masa pandemi.

** Fina Noviyanti Mulyani

(Penulis merupakan mahasiswi D4 Bisnis Perjalanan Pariwisata di Universitas Gadjah Mada)

 

Related posts