
Kota, Wartatasik.com – RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya mencatat peningkatan signifikan pada jumlah pasien dengan gangguan kesehatan jiwa dalam dua tahun terakhir.
Namun, di tengah lonjakan kunjungan tersebut, pihak rumah sakit masih harus menghadapi tantangan besar berupa keterbatasan sarana pelayanan serta tenaga spesialis kesehatan mental.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr Soekardjo, dr. Titie Purwaningsari, MMRS, FISQUA, mengungkapkan bahwa akibat terus bertambahnya pasien, waktu pelayanan di klinik kejiwaan kini terpaksa diperpanjang.
“Dulu layanan dokter jiwa hanya berlangsung setengah hari, sekarang sudah sampai sore karena jumlah pasien terus meningkat,” ujar dr. Titie, di ruang kerjanya, Senin (8/6/2026).
Saat ini, lanjut Titie, beban kerja pelayanan terbilang cukup tinggi. RSUD dr Soekardjo baru memiliki satu orang dokter spesialis jiwa, yang setiap harinya harus melayani hingga sekitar 60 pasien. Mayoritas dari pasien yang datang tersebut didominasi oleh kelompok usia produktif.
Menurutnya, banyak kasus gangguan mental ini berakar dari stres yang tidak terdeteksi sejak dini. Kondisi tersebut sering kali baru disadari dan diperiksakan setelah memasuki tahap yang lebih berat, sehingga membutuhkan penanganan yang jauh lebih intensif.
Berbagai faktor eksternal disinyalir menjadi pemicu, mulai dari tekanan ekonomi, persoalan keluarga, beban pekerjaan, hingga masalah sosial lainnya.
Selain keterbatasan jumlah dokter spesialis, RSUD dr Soekardjo juga belum memiliki poliklinik rawat jalan khusus kesehatan jiwa, sehingga proses pelayanan saat ini masih memanfaatkan ruangan yang tersedia. Keterbatasan serupa juga terjadi pada sarana penunjang pemeriksaan serta terapi kesehatan mental.
“Kami masih memiliki keterbatasan fasilitas untuk pelayanan kesehatan jiwa. Kondisi ini tentu menjadi tantangan dalam memberikan layanan yang optimal,” akunya.
Mengantisipasi hal tersebut, pihak manajemen rumah sakit telah bergerak cepat dengan mengusulkan program pengembangan layanan unggulan kesehatan jiwa. Program ini diharapkan dapat segera terealisasi dalam beberapa tahun mendatang guna mengoptimalkan fasilitas penunjang dan terapi.
Melihat tren yang ada, dr. Titie menilai fenomena peningkatan kasus gangguan mental ini harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya pihak rumah sakit semata. Upaya pencegahan melalui deteksi dini di tingkat keluarga dan masyarakat memegang peranan yang sangat krusial.
Ia mengimbau masyarakat untuk lebih peka dan peduli terhadap perubahan perilaku yang terjadi pada anggota keluarga atau orang di lingkungan sekitar. Gejala-gejala seperti menarik diri dari pergaulan, murung berkepanjangan, mudah marah, hingga munculnya indikasi menyakiti diri sendiri harus segera diwaspadai.
“Jika menemukan gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga profesional agar mendapatkan penanganan lebih cepat dan tepat,” imbaunya.
Ditegaskannya, bahwa sinergi dari berbagai lini mulai dari dukungan regulasi pemerintah, penambahan tenaga medis spesialis, peningkatan fasilitas rumah sakit, hingga edukasi masif kepada masyarakat merupakan langkah kunci untuk menghadapi tantangan meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental di Kota Tasikmalaya. Asron
