Peringati Hari Bumi, TTD Ikut Andil pada Kegiatan Ngarumat Hulu Cai

Peringati Hari Bumi, TTD Ikut Andil pada Kegiatan Ngarumat Hulu Cai |  Asron

Tasikmalaya, Wartatasik.com – Memegang teguh filosofi “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke”, komunitas Tasikmalaya Tempo Doeloe (TTD) menunjukkan aksi nyata dalam pelestarian alam dan sejarah.

TTD ikut ambil bagian dalam kegiatan Ngarumat Hulu Cai yang dipusatkan di Gedong Cai, Gunung Kokosan, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Rabu (22/04/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) di bawah komando Kang Tatang Pahat ini, menjadi momentum sinergi antara pemerintah, Muspika, seniman, penggiat budaya, hingga tokoh masyarakat dalam memperingati Hari Bumi.

Bagi TTD, keterlibatan ini bukan sekadar seremonial. Gedong Cai Gunung Kokosan memiliki nilai historis tinggi karena merupakan situs mata air yang ditemukan dan dibangun sejak zaman kolonial Belanda.

Selain menjaga nilai sejarah, TTD bersama unsur lainnya melakukan reboisasi dengan menanam kurang lebih 5.000 pohon di area hulu cai tersebut.

Langkah ini merupakan aksi nyata kedua TTD dalam skala besar, setelah sebelumnya sukses menggelar aksi serupa pada acara “Gandrung Mulasara” di Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya tahun 2018 silam.

Ketua TTD, Nur Apandi (Galista), yang hadir didampingi sejumlah anggota, menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga alam sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

“Tidak ikut andil sekarang mau kapan lagi? Mending kita masih ada umur. Teu dipiara ku urang-urang rek ku saha deui?” ujar Nur Apandi di sela kegiatan.

TTD ikut ambil bagian dalam kegiatan Ngarumat Hulu Cai yang dipusatkan di Gedong Cai, Gunung Kokosan, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Rabu (22/04/2026) | asron

BACA JUGA: Apresiasi Aksi DKKT, Kepler Sianturi: ‘Ngarumat Hulu Cai’ Bisa Jadi Destinasi Wisata dan Dongkrak UMKM 

Ia menambahkan bahwa ketidakpedulian terhadap bumi merupakan cermin dari krisis akhlak yang berdampak fatal bagi kelangsungan hidup manusia.

“Mun urang teu peduli ka eusi bumi, berarti geus teu peduli ka diri, beh jerona berarti teu bersyukur kana naon anu geus dikarunikeun ku Robbul Izzati. Teu bersyukur berarti urang geus kufur, eta hartina geus bencana akhlak. Akibatna alam bakal ruksak, cai beak, manusa balangsak,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Nur Apandi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai bergerak dari hal-hal kecil seperti menanam pohon. “Langkah kecil akan bermanfaat besar untuk masa depan,” pungkasnya. Asron

Berita Terkait