
Kota, Wartatasik.com – Persoalan kebersihan toilet di SDN Galunggung, Kota Tasikmalaya, memicu perbedaan pandangan antara pihak legislatif dan kepala sekolah.
Hal ini mencuat usai Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Fraksi PDIP Dapil 1, Kepler Sianturi, menggelar inspeksi mendadak (sidak) setelah menerima keluhan dari para orang tua murid.
Saat meninjau lokasi pada Selasa (6/10/2026), Kepler menemukan kondisi toilet sekolah yang mengeluarkan bau menyengat serta belum adanya pemisahan fasilitas untuk siswa laki-laki dan perempuan.
Tak hanya masalah sarana, Kepler juga menyoroti beban kerja dua petugas kebersihan (Office Boy/OB) di sekolah tersebut yang dinilai kurang optimal akibat pembagian tugas.
“Temuan di lapangan menunjukkan toilet memang perlu peningkatan pemeliharaan. Petugas OB terbagi tugasnya untuk mengurusi program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga tugas pokok menjaga kebersihan jadi terganggu,” ungkap Kepler.
Menanggapi hasil sidak tersebut, Kepala SDN Galunggung, Hj. N. Oon, S.Pd., memberikan klarifikasi. Menurutnya, urusan kebersihan lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab bersama seluruh ekosistem pendidikan, bukan mutlak beban penjaga sekolah semata.
“Keberlangsungan di lembaga pendidikan itu sifatnya pentahelix. Ada keterlibatan siswa, orang tua, guru, kepala sekolah, hingga penjaga. Jadi bukan hanya kewajiban penjaga saja,” tutur Oon.
Oon menjelaskan, para penjaga maupun guru sejauh ini telah bekerja sesuai Surat Perjanjian Kerja (SPK) tahunan. Namun, tantangan utama justru datang dari kebiasaan dan kesadaran sebagian siswa yang masih rendah dalam menjaga kebersihan fasilitas umum.
“Anak-anak memang masih sulit dan ini mungkin saya belum sukses mendidik. Kendalanya ada pada kebiasaan anak-anak yang kadang lupa menyiram atau tidak membersihkannya dengan benar setelah dari toilet,” jelasnya.
Ia menambahkan, murid usia sekolah dasar masih membutuhkan bimbingan yang intensif. Bahkan di sekolah, tak jarang guru harus turun tangan membantu siswa. Oleh karena itu, Oon menekankan pentingnya peran orang tua di rumah dalam membentuk pembiasaan hidup bersih pada anak.
“Bimbingan karakter itu harusnya dibentuk dari rumah. Di sekolah dididik, di rumah juga harus terus diingatkan: ‘De, kalau dari WC disiram ya, dibersihkan, jangan nyiprat ke mana-mana’,” tambahnya.
Atas kondisi tersebut, Kepler Sianturi mendorong adanya solusi tengah. Ia merekomendasikan pihak sekolah untuk segera memasang penanda pemisahan toilet laki-laki dan perempuan sebagai sarana edukasi, sekaligus mengoptimalkan tata kelola kebersihan serta melibatkan peran aktif orang tua murid.
Ia juga menyatakan kesiapannya untuk membantu berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna mendorong program rehabilitasi, apabila fasilitas sarana dan prasarana di sekolah tersebut membutuhkan perbaikan berskala besar. Asron
