Algoritma Bahasa Presiden “JOKOWI”

SIGIT APRIYANTO, M.Pd., PhD (c) Doctor of Forensic Linguistics University Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) | dokpri

Referensi, Wartatasik.com – Linguistik fungsional memandang bahasa sebagai bahasa alami dan bahasa verbal. Artinya, bahasa tersebut tidak terbentuk secara semiotik melainkan melalui sebuah kompetensi.

Linguistik fungsional sendiri membagi tata bahasa menjadi beberapa unit, yaitu klausa, frasa, kata dan morfem. Hal ini lebih dikenal sebagai parts of speech. Makna di balik ini secara lebih rinci dibahasa dalam bukunya Pennebaker The Secreet Life of Personal Pronouns.

Kali ini, penulis akan berbicara terkait dimensi bahasa atau dalam text software dikenal sebagai Algoritma Bahasa. Menurut Halliday, dimensi bahasa dibagi menjadi lima dimensi, yaitu struktur, sistem (urutan paradigmatik), stratifikasi, penyontohan dan metafungsi.

Dimensi struktur berprinsip pada tataran klausa, group atau frasa, kata, morfem. Dimensi sistem atau urutan paradigmatik berprinsip pada kedalaman analisis, yaitu pada leksikogramatika. Dimensi selanjutnya yaitu dimensi stratifikasi yang berprinsip pada realisasi:

berurutan pada hal semantik, leksikogramatika, fonologi dan fonetik. Dimensi ke-empat yaitu dimensi penyontohan yang berprinsip pada penyontohan contoh dalam konteks bahasa.

Dimensi terakhir yaitu dimensi metafungsi yang berprinsip pada ideasional dan interpersonal tekstual.
Pada kesempatan kali ini penulis ingin sedikit mengulas tentang sebuah analisis bahasa dari perspektif algoritma bahasa melalui sudut pandang dimensi sistem (paradigmatik).

Secara khusus, penulis mengeksplorasi sebuah kebahasaan melalui dimensi dan tiga algoritma bahasa text software: Analytical Thinking, Clout, dan Authentic.

Algoritma Bahasa
a. Analytical Thinking
Seperti yang telah dibaca banyak orang terkait teknik berbicara Presiden JOKOWI (seperti dilansir news.liputan6.com), Joko Widodo menggunakan teknik ‘personifikasi’.

Ketika Presiden JOKOWI menyuarakan sebuah ide, dia tidak hanya mengeksposnya seolah-olah itu datang dari dirinya sendiri, tetapi juga ada sumbangsih pemikiran yang datang dari orang lain (baik itu fiktif, logis, fakta) untuk disuarakan.

Sebagai contoh, dalam pidato kampanye misalnya, beliau menyuarakan ide-idenya melalui gaya personifikasi dengan menyampaikan apa yang dikatakan orang kepadanya.

Strategi wacana tersebut beliau gunakan berfungsi untuk membalikkan arah pengaruh dari orang-orang yang memegang kendali menjadi orang-orang yang dikendalikan.

Tingkat berpikir dan bertindak kritis inilah yang kemudian menjadi nilai jual dan kunci positif.

b. Clout
Dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan istilah “percaya diri.” Hal ini menjadi sangat penting dalam hampir setiap aspek kehidupan kita, namun begitu banyak orang berjuang untuk menemukan apa yang mereka sebut “PD.”

Anda mungkin pernah melihat seseorang yang berbicara dengan jelas dan lantang, yang menjunjung tinggi kepalanya, yang menjawab pertanyaan dengan pasti, dan yang siap mengakui ketika dia tidak tahu sesuatu.

Orang yang percaya diri mampu menginspirasi kepercayaan pada orang lain: audiens mereka, rekan-rekan mereka, bos mereka, pelanggan mereka, dan teman-teman mereka.

Dan mendapatkan kepercayaan diri orang lain adalah salah satu cara kunci di mana orang yang percaya diri itu akan menemukan kesuksesan.

Kembali lagi saya menggunakan contoh pidato kenegaraan, Bapak JOKOWI mampu untuk mendapatkan perhatian dari audiens, karena seorang pembicara harus menjadi wakil dari komunitas orang-orang (kelompok-kelompok sosial), dan untuk menjadi perwakilan seperti itu orang harus menunjukkan/membuktikan bahwa suara seseorang adalah suara bangsa , atau paling tidak mengekspresikan suara bangsa.

Ini adalah jantung dari strategi argumentatif Jokowi. Struktur pidatonya membuktikan bahwa ia memiliki kepercayaan diri untuk menjadi wakil rakyat, presiden rakyat, karena ia mampu mengekspresikan berbagai suara yang membentuk rakyat.

c. Authentic
Dalam psikologi positif, keaslian suatu makna dan kepentingannya dipandang sebagai aspek paling mendasar. Kecenderungan bahwa kurangnya keaslian suatu makna bahasa bahkan keaslian sumber bahasa menyebabkan “psikopatologi” dan menyebabkan orang terlibat dalam perilaku yang dipaksakan dan tidak alami, membuat mereka merasa tidak terpenuhi atau direndahkan.

Oleh sebab itu, unsur keaslian sumber dan makna diyakini mampu meningkaykan dan membantu seseorang memiliki rasa diri yang jelas dan konsisten.

Penurunan pemikiran analitik menandakan pergeseran dalam cara presiden memikirkan masalah dan menyampaikan gagasan mereka. Presiden Jokowi, seperti presiden lainnya, mengutarakan idenya dengan cara yang lebih sederhana dan langsung.

Asumsi penulis adalah Jokowi kemungkinan akan semakin bergantung pada penawaran solusi dan ide sederhana dan intuitif untuk masalah yang dihadapinya.

Selain itu, penggunaan bahasa presiden dapat menunjukkan seberapa percaya diri dan percaya diri mereka sebagai pemimpin. Presiden Jokowi sangat tegas dan percaya diri dalam rencana dan usulannya.

Terakhir, kajian tentang bahasa dan lebih khusus lagi linguistik forensik dapat digunakan dengan baik dan maksimal sebagai peranan bahasa terapan di multidisiplin ilmu. *** Penulis: SIGIT APRIYANTO, M.Pd., PhD (c) Doctor of Forensic Linguistics University Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) 

Berita Terkait