Berdesakan di Rumah Panggung Lapuk, Siswa Kelas Jauh SDN Kubangsari Tagih Janji Bupati

Foto: Ndhie

Berdesakan di Rumah Panggung Lapuk, Siswa Kelas Jauh SDN Kubangsari Tagih Janji Bupati..

Kabupaten, Wartatasik.com – Di balik perbukitan Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, suara riuh anak-anak mengeja huruf terdengar dari sebuah bangunan kayu yang lapuk.

Tanpa bangku megah, dinding tembok, maupun papan tulis modern, sebanyak 25 siswa Sekolah Dasar (SD) harus rela berdesak-desakan di rumah panggung beralaskan papan yang mulai membahayakan demi merajut masa depan.

Bangunan berukuran 5×4 meter berdinding bilik bambu tersebut merupakan sekolah kelas jauh dari SDN Kubangsari. Didirikan secara swadaya oleh masyarakat dan pemerintah desa, ruangan sempit itu harus diisi oleh dua tingkatan sekaligus, yakni 9 siswa kelas 1 dan 16 siswa kelas 2 tanpa adanya sekat pemisah.

Kondisi kian memprihatinkan kala hujan mengguyur. Atap bangunan yang sudah tua kerap bocor hingga membasahi area belajar anak-anak.

“Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Kalau hujan bocor, anak-anak belajar berdesakan tanpa sekat. Saya sangat berharap tempat ini bisa segera dibangunkan dua ruangan kelas baru yang permanen,” ujar Epi, guru kelas jauh yang telah setia mengabdi selama tiga tahun, saat ditemui wartawan.

Epi menceritakan, proses kegiatan belajar mengajar di lokasi tersebut hanya ditopang oleh dua orang tenaga pengajar, yakni dirinya yang masih berstatus Guru Sukarelawan (Sukwan) dan seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

Adapun bagi siswa yang berhasil naik ke kelas 3, perjuangan mereka belum usai. Mereka harus menempuh perjalanan darat sekitar 2 kilometer menuju sekolah induk di SDN Kubangsari.

Sejarah Berdirinya Kelas Jauh dan Krisis Education

​Keberadaan kelas jauh ini memiliki riwayat panjang. Sekitar sepuluh tahun lalu, wilayah sekitar khususnya Kampung Sadot sempat mengalami krisis pendidikan serius. Hampir seluruh warga, mulai dari orang tua hingga anak-anak, mengalami buta huruf karena terisolasi dari akses pendidikan.

​Untuk menuju sekolah terdekat kala itu, anak-anak harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer melintasi bukit, lembah, persawahan, hingga menyeberangi sungai. Lantaran medan yang berat dan membahayakan keselamatan, banyak orang tua memilih tidak menyekolahkan anak-anak mereka.

​Menanggapi kondisi darurat tersebut, pemerintah daerah dan desa akhirnya sepakat mendirikan kelas jauh pada tahun 2016.

​”Dulu tempat ini dibangun sekitar tahun 2017 dengan segala keterbatasan. Anggaran tanahnya dari kas desa dan rereongan (swadaya) warga. Karena dana terbatas, kami membeli rumah panggung bekas warga yang tidak ditempati, lalu materialnya dirakit kembali menjadi bangunan kelas ini,” ungkap Kepala Desa Kertaraharja, Agus.

​Menagih Janji 3 Era Kepemimpinan Bupati

​Kini, kondisi bangunan bekas rumah panggung itu tergerus zaman dan makin mengancam keselamatan para siswa. Pihak desa dan warga sangat berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya segera turun tangan membangun ruang kelas permanen yang layak.

​Agus menuturkan, harapan masyarakat sempat melambung ketika Bupati Tasikmalaya kala itu, Uu Ruzhanul Ulum, menjanjikan pembangunan gedung kelas jauh secara permanen apabila pihak desa berhasil menyediakan lahannya. Namun hingga kini, janji tersebut belum juga terealisasi.

​”Lahan sudah kami sediakan secara swadaya, tapi sampai kepemimpinan berganti hingga 3 bupati, janji tersebut belum juga terealisasi. Kami dari pihak desa tidak bisa menggunakan Dana Desa untuk pembangunan fisik sekolah karena terbentur regulasi yang ada,” tegas Agus. Ndhie

Berita Terkait