
Kota, Wartatasik.com – Permasalahan sampah yang terus meningkat di Kota Tasikmalaya memerlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim kolaborasi dosen yang dikoordinir oleh dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Siliwangi (UNSIL) telah melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat berupa Pelatihan Pembuatan Ecobrick dalam Meningkatkan Keterampilan Pengurangan Sampah pada Masyarakat dan Pengelola Bank Sampah Lestari di Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Senin, 13 Juli 2026.
Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, membangun sikap positif, serta membekali masyarakat dan pengelola Bank Sampah Lestari dengan keterampilan mengolah sampah plastik menjadi ecobrick, yaitu botol plastik yang diisi padat dengan limbah plastik sehingga dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang bernilai guna.
Ketua Tim Pengabdian, Nissa Noor Annashr, SKM., MKM., mengatakan bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Kota Tasikmalaya. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, Kecamatan Tamansari menjadi salah satu wilayah dengan jumlah timbulan sampah tertinggi di Kota Tasikmalaya.
Katanya lagi, Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengurangi dan mengolah sampah dari sumbernya.
“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir. Masyarakat perlu memiliki keterampilan untuk mengurangi sampah sejak dari rumah. Salah-satunya melalui pemanfaatan sampah plastik menjadi ecobrick yang memiliki manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi,” ujar Nissa.
Sejak tahun 2023, Kelurahan Tamanjaya telah memiliki Bank Sampah Lestari, tepatnya berada yang berada di RW 13. Bank Sampah Lestari dapat berjalan di bawah kepemimpinan Ibu Entin Kurniatin, M.Pd. sebagai Direktur Bank Sampah.
Perkembangan bank sampah ini perlu mendapa dukungan dari berbagai pihak baik itu masyarakat maupun pemerintah. Hingga kini aktivitas pengelolaan sampah masih terbatas pada pemilahan dan penjualan sampah anorganik kepada pengepul. Belum banyak kegiatan daur ulang yang menghasilkan produk baru dengan nilai tambah.
Padahal, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tim pengabdian sebelumnya, masih ditemukan sebagian masyarakat yang memiliki pengetahuan dan sikap yang kurang baik terhadap pengelolaan sampah. Kurangnya pengetahuan tersebut terbukti memengaruhi partisipasi masyarakat dalam menjadi nasabah bank sampah. Oleh karena itu, penguatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan keberhasilan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Melalui kegiatan pengabdian ini, peserta tidak hanya memperoleh materi mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga mengikuti pelatihan praktik membuat ecobrick secara langsung. Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mengenai pengelolaan sampah. Selanjutnya peserta mendapatkan penyuluhan mengenai jenis-jenis sampah, dampak sampah terhadap lingkungan dan kesehatan, konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R), hingga teknik pembuatan ecobrick.
Materi disampaikan secara interaktif melalui ceramah, diskusi, pemutaran video edukasi, serta media leaflet yang disusun oleh tim pengabdian agar dapat dipelajari kembali oleh peserta setelah kegiatan selesai.
Pada sesi praktik, tim dosen mendemonstrasikan tahapan pembuatan ecobrick, mulai dari proses pemilahan sampah plastik, membersihkan limbah plastik, memotong plastik menjadi bagian kecil, hingga memasukkannya ke dalam botol plastik menggunakan tongkat pemadat sampai mencapai kepadatan tertentu.
Ecobrick yang telah selesai kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kursi, meja, pot tanaman, pagar taman, maupun berbagai produk kreatif lainnya.
“Harapan kami, masyarakat tidak hanya memahami teori pengelolaan sampah, tetapi benar-benar memiliki keterampilan yang bisa langsung diterapkan di rumah. Jika dilakukan secara berkelanjutan, ecobrick dapat membantu mengurangi volume sampah plastik sekaligus membuka peluang ekonomi melalui produk-produk hasil daur ulang,” tambah Nissa. Selain memberikan pelatihan, tim pengabdian juga akan melakukan evaluasi melalui pengisian post-test.
Kegiatan pengabdian ini melibatkan tim dosen lintas bidang yang terdiri atas Nissa Noor Annashr, SKM., MKM.; Muhamad Fajar Maulidi Tanjung, S.KM., M.K.K.K.; Nisa Khoerunisa, S.IP., M.I.Pol.; Cahya Darmawan, S.Pd., M.Pd.; dan Agus Ahmad Nasrulloh, S.E.I., M.E.Sy. Pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Siliwangi (Lafida Nisa Fauziah dan Panji Setyawan) sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, pengelola bank sampah, dan masyarakat, Universitas Siliwangi berharap Bank Sampah Lestari dapat berkembang menjadi bank sampah yang lebih aktif dan produktif. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Ke depan, keterampilan membuat ecobrick diharapkan dapat ditularkan kepada masyarakat lainnya sehingga semakin banyak warga yang terlibat dalam pengurangan sampah plastik dari sumbernya. Dengan demikian, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan, kualitas lingkungan meningkat, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas daur ulang yang berkelanjutan.
Program ini merupakan salah satu penerima hibah Program Pengabdian Berbasis Masyarakat (PPBM) Universitas Siliwangi Tahun 2026 dan menjadi bagian dari komitmen UNSIL dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
** Penulis: Nisa Kherunisa, S.I.P., M.I.Pol.
Dokumentasi Giat Pelatihan Olah Sampah di Tamansari, Kota Tasikmalaya, Senin, 13 Juli 2026:




