
Tasikmalaya, Wartatasik.com – Sejumlah dosen dari Institut Agama Islam Tasikmalaya (IAI Tasikmalaya) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada pemberdayaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) terlantar di Yayasan Mentari Hati, pada 12 November 2025 lalu.
Program tersebut merupakan bagian dari bantuan PKM tahun 2025 yang didanai oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, dengan tema “Pemberdayaan Berbasis Agama: Peran Masjid dan Dukungan Spiritual dalam Reintegrasi Sosial ODGJ di Komunitas Muslim Tasikmalaya.”
Kegiatan ini dirancang untuk mengintegrasikan pendekatan spiritual dan sosial dalam proses rehabilitasi ODGJ. Tim dosen memandang bahwa dalam konteks masyarakat Muslim Tasikmalaya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat dan ruang interaksi sosial yang strategis.
Melalui penguatan peran masjid, program ini mendorong terciptanya dukungan komunitas yang lebih inklusif terhadap ODGJ, sehingga proses reintegrasi sosial tidak berhenti pada tahap pemulihan internal di panti, melainkan berlanjut pada penerimaan sosial yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan mencakup pendampingan spiritual melalui pembinaan keagamaan yang disesuaikan dengan kondisi psikososial para penerima manfaat, penguatan kapasitas kemandirian melalui pelatihan sederhana, serta edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai pentingnya menghapus stigma terhadap ODGJ.
Pendekatan ini menekankan bahwa rehabilitasi tidak semata-mata bersifat medis, tetapi juga menyentuh dimensi batin, harga diri, dan relasi sosial.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAI Tasikmalaya, Dr. Dede Aji Mardani.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak boleh dipahami sekadar sebagai pemenuhan kewajiban Tri Dharma perguruan tinggi. Menurutnya, pengabdian harus mampu menghadirkan solusi nyata, berdampak langsung, serta berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan sosial yang kompleks.
Ia juga menyoroti bahwa kelompok ODGJ sering kali memiliki potensi dan keunggulan tertentu yang tertutup oleh stigma sosial, sehingga diperlukan pendekatan yang humanis, berbasis nilai agama, dan didukung oleh komunitas.
Melalui sinergi antara akademisi, lembaga sosial, dan institusi keagamaan, program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan berbasis agama yang relevan dengan karakter masyarakat Tasikmalaya.
Para pelaksana meyakini bahwa dengan dukungan spiritual yang terstruktur dan keterlibatan aktif komunitas masjid, proses reintegrasi sosial ODGJ dapat berjalan lebih bermartabat, inklusif, dan berkelanjutan.
Penulis: Dr. Dede Aji Mardani (Kepala LPPM IAI Tasikmalaya)
