Ibu Hamil di Kota Tasik Melonjak 105% di Masa Pandemi, DPPKBP3A: Data Sebenarnya ini..!

 55,211 total views,  56 views today

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kota Tasikmalaya Hj Nunung Kartini | Asron

Kota, Wartatasik.com – Kabar hot nan menggelitik di Kota Tasikmalaya tersebar di medsos, pasalnya ditengah imbauan pemerintah diam dirumah, terjadi lonjakan ibu hamil yang menyebut 105 persen selama pandemi virus Corona.

Tentu saja kabar tersebut membuat kaget publik, bahkan menjadi bahan guyonan jika dirumah dijadikan aji mumpung untuk ‘indehoy’ para suami istri.

Menyikapi itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kota Tasikmalaya Hj Nunung Kartini didampingi Kasi Data Hani  dan Koordinator KB Nina angkat bicara. Ia menilai kabar lonjakan ibu hamil mencapai seratus persen lebih itu kurang tepat.

“Mungkin, yang dimaksud ratusan persen itu, jumlah pasien atau ibu hamil yang berkunjung ke dokter atau bidan, bukan berarti sama dengan jumlah ibu hamil, karena selama ibu hamil bisa beberapa kali berkunjung atau memeriksakan kandungannya,” ujar Nunung, di ruang kerjanya, Selasa (05/05/2020).

Dijelaskan Nunung, pihaknya sangat apik dan detail jika berbicara data, sebab kata ia, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) langsung berkunjung ketiap rumah atau door to door berdasarkan wilayah domisili.

“Misalnya disatu rumah ada keluarga, kita tanya, kenapa ibu hamil, lalu dijawab karena ingin anak lagi, karena baru satu anaknya. Kemudian, ada lagi keluarga ditanya, alasan ibu menikah, dijawab karena ingin punya anak, detail pertanyaan dari kami,” bebernya.

Nunung menambahkan hasil pendataan yang secara berkala setiap bulannya dilaporkan kepada BKKBN pusat dan provinsi, “Dilaksanakan oleh petugas yang dibentuk kader di Kota Tasikmalaya dan Pos KB kami yang berjumlah 1117 orang,” ujarnya.

Ia menambahkan, kalau menghitung jumlah kunjungan betul apa yang diinformasikan mencapai ratusan persen, karena setiap ibu hamil akan melakukan kunjungan ke faskes secara berulang-ulang untuk memeriksakan kehamilannya.

Diakuinya, tahun 2019 ada terjadi kenaikan pada bulan Januari sampai Maret sebesar 218 kehamilan, sementara 2020 itu, pada bulan dan periode yang sama terdapat penambahan 235 kehamilan.

“Kalau berdasarkan data kami, tahun 2019 sampai 2020 di periode dan bulan sama, hanya naik 7,8 persen, sekali lagi hanya 7,8 persen. Itu wajar dan dapat terkendali,” pungkasnya. Asron

 

Related posts