Pertahankan Kelestarian Alamnya, Warga Setempat Menolak Keras Tambang Pasir Leuweung Keusik

Pertahankan Kelestarian Alamnya, Warga Setempat Menolak Keras Tambang Pasir Leuweung Keusik | Ndhie

Kabupaten, Wartatasik.com – Bagi sebagian orang mungkin memperingati Hari Hutan Sedunia adalah hal yang asing, hal itu dikarenakan peringatan tersebut baru diresmikan beberapa tahun belakangan ini.

Hari Hutan Sedunia adalah hari yang diadakan dengan tujuan untuk saling berbagi visi dan misi mengenai hal yang berkaitan dengan hutan dan pohon, perubahan iklim, dan strategi yang harus dilakukan.

International Day of Forest atau Hari Hutan Sedunia ditetapkan oleh PBB dalam resolusi PBB 67/200 pada 21 Desember 2012, secara singkat penjelasan dari PBB mengenai tujuan memperingati Hari Hutan Sedunia adalah untuk menyadarkan seluruh masyarakat bahwa pentingnya menjaga kelestarian hutan bagi keberlangsungan seluruh makhluk hidup di bumi.

Namun, beda jelas ketika kita melihat dengan adanya penambang pasir yang mengganggu kelestarian dan suasana hutan yang ada di kaki gunung Galunggung tepatnya di Leuweung Keusik.

Sedikitnya, hutan yang luasnya sekitar 300 hektar itu, baru digali pasirnya seluas sekitar beberapa bata saja oleh pihak perusahan suasana hutan gunung Leuweung Keusik ini sudah beda seperti biasanya.

“Penampakan baru dari penggalian pasir itu jelas menghilangkan kelestarian dan kesejukan hutan ini,” ucap Yayan Daryan, salah seorang warga setempat, Sabtu (20/3/2021).

Klik like & subscribe channel kami juga: 

Padahal lanjut Yayan, tak sedikit warga setempat yang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan Leuweung Kesik ini.

Warga setempat katanya, bertahan hidup dengan mencari sesuap nasi, dari hasil panen kekayaan alam seperti bambu atau memanfaatkan dari pohon aren sebagai penghasil gula

“Saya menggantungkan hidup mencari uang dari hutan gunung ini. Jadi, saya akan mempertahankan sekuat mungkin agar hutan ini, pasirnya tidak mereka gali lagi sehinga alam ini terus lestari,” tegasnya.

Ditempat yang sama salah seorang warga, Bakti Adi Guna menegaskan bahwa ia dan warga lainnya menolak keras galian pasir ini.

Selain itu tambahnya lagi, warga pun menuntut kepada pemerintah provinsi Jawa Barat, untuk tidak hanya sekedar mencabut izin sementara. “Akan tetapi, harus mencabut izinnya secara permanen atau selamanya,” ujarnya.

Coba lihat katanya, baru beberapa jam saja sudah mengeruk pasir sedalam beberapa meter. bagaimana jika mengeruknya seharian, bisa-bisa hutan Leweung Keusik ini gundul dan rawan longsor.

“Untung saja waktu itu warga bergerak cepat, saat perusahan ini beroperasi. Bahkan warga mengancam jika galian tersebut memaksakan beroperasi. Warga bakal siap menghadang untuk mempertahankannya, supaya tidak ada penggalian pasir lagi,” tandasnya. Ndhie

Berita Terkait