Istiwa, Situs Penunjuk Waktu dari Citamiyang Kawalu Menjadi Cagar Budaya

 7,112 total views

Istiwa, Citamiyang, Tanjung – Kawalu | TTD

Kota, Watatasik.com – Sebagaimana telah dilansir media online Watatasik.com edisi bulan Februari 2018 lalu terkait penemuan situs Istiwa atau penunjuk waktu sholat oleh Komunitas Tasikmalaya Tempo Doeloe (TTD). Situs yang berada di Citamiyang Tanjung, Kec. Kawalu Kota Tasikmalaya diharapkan TTD menjadi cagar budaya.

Kepada wartatasik.com Sekretaris ALPARIBI (Aliansi Pemelihara Pariwisata dan Budaya Indonesia) Agus Wira Budiman mengatakan bahwa situs tersebut, saat ini sudah diakui dan tercatat sebagai situs peninggalan sejarah dan telah menjadi cagar budaya yang harus dipelihara dan dilindungi keberadaannya oleh semua pihak termasuk Pemerintah Daerah.

“Kami sudah turun kelokasi bersama pihak Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tasikmalaya untuk menggali keberadaan dan usia dari Istiwa itu. Hasilnya bangunan itu memang sudah masuk penilaian penetapan cagar budaya yang harus diselamatkan,” paparnya, Jumat (10/08/2018).

Klik berita terkait >>> TTD Harap Istiwa Citamiyang Kawalu menjadi Cagar Budaya

Ki-Ka: Kasi Kebudayaan, Sejarah dan Nilai Tradisi Dibudparpora Yayan Sopiya dan Sekretaris ALPARIBI (Aliansi Pemelihara Pariwisata dan Budaya Indonesia) Agus Wira Budiman | asron

Sementara itu, Kasi Kebudayaan, Sejarah dan Nilai Tradisi Dibudparpora Yayan Sopiyan mengaku telah mengusulkan untuk perawatan Istiwa tersebut dan sudah masuk program ruang terbuka hijau (RTH) di Bappelitbangda Kota Tasikmalaya, “Lokasinya sudah kami ukur, karena ditakutkan setelah pembangunan berlangsung, ada tanah warga yang terpakai. Untuk itu, kami sangat merespon setiap ada penemuan situs untuk diteliti lebih lanjut, untuk memastikan masuk tidaknya menjadi cagar budaya,” ujarnya.

Ia mengatakan dengan tercatatnya Istiwa sebagai cagar budaya di Kota Tasikmalaya, pihaknya bersama para komunitas peduli cagar budaya dan peninggalan untuk menggali sejarah dan keberadaannya, “Semua yang berkaitan kita tampung dan kumpulkan selanjutnya bisa dijadikan referensi wisata budaya daerah,” tandasnya. asron

 

Related posts