Ryan Gozali, selaku CEO Liga Mahasiswa | Suslia

Kota, Wartatasik.com – Liga Mahasiswa (LIMA) memiliki visi Awal Masa Depan. Perwujudan dari visi tersebut dapat dilihat dari berbagai kegiatan yang digelar.

Tak hanya mahasiswa di bidang olah raga, LIMA juga ingin menjadi awal masa depan bagi bangsa Indonesia.

Sebagai platform untuk para student-athlete yang ingin berkarya di bidang olah raga, LIMA mengadakan kompetisi yang digelar diberbagai daerah, baik didalam maupun diluar pulau Jawa.

Hingga musim ketujuh saat ini, LIMA sudah menggelar turnamen lebih dari 15 kota berbeda. Bahkan, LIMA nanti akan menambah kota penyelenggaraan musim ini, yaitu Balikpapan.

Kompetisi yang digelar LIMA juga bukan sekadar persaingan antarkampus, tetapi juga ajang untuk saling memotivasi diri atau tim dalam membawa nama kampus.

LIMA berharap, dengan adanya turnamen-turnamen tersebut, para student-athlete bisa berprestasi di dunia akademik sekaligus memiliki kepedulian sosial. Hal itu menjadi syarat bagi para student-athlete yang ingin berpartisipasi.

Hal tersebut diungkapkan Ryan Gozali, selaku CEO Liga Mahasiswa kepada wartawan usai memberikan pemaparan dalam acara LTW (Training and Workshop) di Unsil.

Klik berita terkait >>> Turut Kembangkan Industri Olah Raga, LIMA Bakal Gelar Training dan Workshop di Unsil

 

Ia menegaskan bahwa para mahasiswa yang ingin mendaftar harus memiliki IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang sudah menjadi standar LIMA.

Peraturan tersebut bertujuan agar setelah lulus mereka tidak hanya memiliki kemampuan di bidang olahraga, tetapi juga akademik.

“Selain itu, untuk mengasah kepedulian sosial, setiap student-athlete harus melakukan kegiatan sosial sebelum mengikuti kompetisi,” ujarnya, Kamis (10/10/2019).

Tidak hanya menjadi wadah untuk mahasiswa-atlet tambahnya, LIMA juga mewadahi para mahasiswa-mahasiswi non-olahraga. Salah satu contohnya adalah dengan menggelar LTW.

“LTW ini bertujuan untuk membagikan pengetahuan di industri olah raga dan dunia kerja, serta menyediakan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengembangkan diri, baik hard skill maupun soft skill,” ucapnya

Salah satunya tambah Ryan, LTW yang telah berlangsung di Gedung Rektorat Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya hari ini.

Ia mengakui tidak hanya mahasiswa yang merasakan pembinaan. Sebagai human development agent, LIMA juga turut membina wasit lewat Referee Refreshment Program.

“Kegiatan LTW ini bertujuan untuk memberikan penyegaran sekaligus mengingatkan kembali tentang peraturan-peraturan yang berlaku kepada para wasit yang akan bertugas di kompetisi LIMA,” katanya.

Ryan menambahkan lagi bahwa LIMA ingin mengembangkan industri olah raga, “LIMA bervisi Awal Masa Depan, yaitu awal masa depan mahasiswa Indonesia, awal masa depan atlit, awal masa depan olah raga Indonesia, dan awal masa depan bangsa Indonesia secara keseluruhan,” ujarnya.

“Kami menyajikan kompetisi yang keren dan kredibel. Artinya, pengemasan di lapangan baik, peserta dan pelaksanaannya juga absah,” tuturnya.

Dengan visi tersebut, Liga Mahasiswa berharap bisa menjadi jembatan untuk manusia Indonesia. Kehadiran LIMA diharapkan tak hanya membawa manfaat untuk LIMA sendiri, tapi juga dapat memberikan kontribusi untuk dunia olahraga di Indonesia. Asron | Suslia