
Referensi – Sebagai negara tropis, kekayaan biodeiversitas Indonesa, termasuk keragaman ikan hias di Indonesia sangat tinggi. Terdapat sekitar 1760 jenis ikan hias, baik laut maupun air tawar. Ikan hias air laut ada sekitar 650 spesies, sudah teridentifikasi 480 spesies dan diperdagangkan sekitar 200 spesies (KKP, 2018 ).
Ikan koki (Carassius auratus) merupakan salah satu ikan hias air tawar yang banyak digemari di Indonesia. Keindahan bentuk tubuh dan variasi warnanya menjadikan ikan koki sebagai salah satu komoditas ornamental fish yang banyak diminati konsumen. Ikan koki memiliki berbagai varietas, seperti Oranda, Ranchu, Ryukin, Lionhead, Pearlscale, Telescope, Black Moor, Fantail, dan Veiltail.
Setiap varietas memiliki ciri morfologi dan pola warna yang berbeda sehingga memberikan daya tarik tersendiri bagi penghobi maupun pembudidaya. Warna merupakan faktor utama yang menentukan kualitas dan nilai jual ikan koki. Selain dipengaruhi oleh faktor genetik, kualitas warna juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan nutrisi, terutama kandungan pigmen dalam pakan.
Peningkatan kualitas warna dapat dilakukan melalui pemberian pakan yang mengandung pigmen, seperti karotenoid, astaxantin, lutein, dan β-karoten. Dikarenakan ikan tidak mampu mensintesis pigmen tersebut secara optimal, penambahan sumber pigmen dalam pakan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kecerahan warna, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi ikan koki.
Pembentukan Pigmen Warna pada Ikan
Kualitas warna pada ikan hias dapat ditingkatkan melalui pengelolaan lingkungan budidaya yang baik serta pemberian pakan yang sesuai, baik dari segi jenis, jumlah, maupun waktu pemberian. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kecerahan warna ikan adalah keberadaan pigmen.
Pigmen merupakan senyawa non-nutrisi yang berperan dalam pembentukan warna tubuh ikan, terutama warna kuning, jingga, dan merah. Menurut NRC (1989), pigmen utama yang berperan dalam pewarnaan ikan meliputi karotenoid, xantofil, dan pterin, yang masing-masing memiliki turunan dengan kemampuan menghasilkan warna yang berbeda. Misalnya, β-karoten, lutein, zeaxantin, dan taraxantin berkontribusi terhadap warna kuning, sedangkan astaxantin dan kantaxantin menghasilkan warna jingga hingga merah.
Sebagian besar ikan tidak mampu mensintesis pigmen karotenoid secara alami, tetapi dapat menyerap dan menyimpannya di dalam jaringan tubuh. Oleh karena itu, kebutuhan pigmen harus dipenuhi melalui pakan, baik yang berasal dari pakan alami maupun melalui penambahan bahan sumber karotenoid dalam pakan.

Peningkatan intensitas warna ikan dapat dilakukan melalui fortifikasi pakan dengan karotenoid. Penyerapan dan akumulasi karotenoid di dalam sel pigmen berperan penting dalam proses pigmentasi tubuh ikan (Gouveia et al. 2003). Karena ikan tidak dapat memproduksi karotenoid sendiri, suplementasi pigmen dalam pakan, seperti β-karoten, menjadi salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan kualitas warna (Lesmana dan Satyani 2002; Amin et al. 2012).
Sumber karotenoid yang digunakan dalam pakan ikan dapat berasal dari berbagai bahan alami, seperti buah-buahan, sayuran, maupun bahan hewani (Kalidupa et al. 2018). Andriani (2022) menjelaskan bahwa pigmen merupakan senyawa non-nutrisi yang berfungsi membentuk warna pada ikan.
Sementara itu, Meilisza (2023) menyebutkan bahwa warna tubuh ikan dipengaruhi oleh tiga jenis pigmen utama, yaitu melanin yang menghasilkan warna hitam, eritrin yang menghasilkan warna merah, dan xantin yang menghasilkan warna kuning. Kombinasi ketiga pigmen tersebut akan membentuk variasi warna yang beragam pada ikan hias.
Buah Naga: Sumber Antioksidan dan Pigmen Alami
Buah naga (Hylocereus polyrhizus.) dikenal sebagai salah satu buah yang kaya akan senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan alami. Kandungan antioksidan, karotenoid, vitamin, senyawa fenolik, flavonoid, serta pigmen alami dalam buah naga berperan dalam menangkal radikal bebas sekaligus mendukung berbagai proses fisiologis organisme (Halliwell dan Gutteridge 2015).
Selain itu, buah naga juga mengandung β-karoten dan pigmen betalain yang berkontribusi terhadap pembentukan warna merah hingga ungu pada daging buah, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pigmen alami untuk meningkatkan kualitas warna ikan hias (Esquivel et al. 2007; Stintzing dan Carle 2007). Bagian kulit buah naga yang tidak dikonsumsi manusia merupakan sumber pigmen yang dapat digunakan dalam pakan ikan hias.

Hasil analisis menunjukkan bahwa tepung kulit buah naga memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC₅₀ sebesar 6.551,45 ± 148,43 ppm, mengandung β-karoten sebesar 1.800 mg/kg, yang menunjukkan potensinya sebagai sumber karotenoid alami. β-Karoten merupakan salah satu pigmen karotenoid yang berperan sebagai prekursor vitamin A serta berfungsi meningkatkan intensitas warna pada ikan melalui deposisi pigmen pada sel kromatofor (Britton et al. 2009; Gouveia et al. 2003)..
Sementara itu, hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa tepung kulit buah naga mengandung senyawa fenolik yang diketahui memiliki kemampuan sebagai antioksidan, dan tanin yang memiliki aktivitas antioksidan, antimikroba, dan berpotensi meningkatkan ketahanan tubuh organisme akuatik apabila digunakan dalam jumlah yang sesuai (Cheynier 2012).
Hal ini menunjukkan bahwa tepung kulit buah naga memiliki potensi sebagai bahan tambahan pakan fungsional yang tidak hanya menyediakan pigmen alami untuk meningkatkan kualitas warna ikan hias, tetapi juga mengandung senyawa bioaktif yang dapat mendukung kesehatan ikan.
Kulit Buah Naga Sebagai Pigmen Warna Ikan Koki
Keunggulan kulit buah naga sebagai sumber pigmen alami telah duji melalui penelitian pada ikan koki (Carassius auratus) (Andriani dkk, 2025). Tepung kulit buah naga yang dicampurkan ke dalam pakan mampu meningkatkan kecerahan warna pada sisik ikan koki. Penambahan dengan dosis 20% menghasilkan perubahan warna paling tinggi pada seluruh bagian tubuh ikan. Pada bagian kepala, skor warna meningkat sebesar 0,47, sedangkan pada badan dan ekor masing-masing meningkat sebesar 0,62 dan 0,54 (Gambar 3)

Hasil penelitian tersbut menunjukkan bahwa pigmen alami yang terkandung dalam kulit buah naga mampu meningkatkan intensitas warna tubuh ikan secara nyata. Semakin banyak pigmen yang tersedia dalam pakan, semakin besar pula peluang pigmen tersebut diserap oleh tubuh dan disimpan pada sel-sel kromatofor yang bertanggungjawab membentuk warna merah dan oranye pada ikan.
Mekanisme ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menjelaskan bahwa karotenoid dari pakan akan diserap melalui saluran pencernaan, kemudian didistribusikan ke jaringan kulit, sisik, dan sirip sehingga memperkuat warna tubuh ikan (Sathyaruban et al. 2021).
Temuan ini memberikan harapan baru bagi pengembangan pakan ikan hias berbasis bahan alami. Pemanfaatan kulit buah naga sebagai bahan baku pakan tidak hanya mampu meningkatkan kualitas warna ikan, tetapi juga mendukung konsep ekonomi sirkular dengan mengurangi limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Penulis:
Yuli Andriani (Kepala Departemen Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran)
