
Kota, Wartatasik.com – Di antara kerumunan banyak masyarakat yang tengah beraktifitas di Kompleks Dadaha, terlebih pada hari Sabtu di pagi hari, nampak sekelompok relawan dari program Z-Clean 2026 bergerak dengan ritme berbeda.
Mereka melakukan plogging, sebuah perpaduan antara aktivitas fisik dan aksi nyata memungut sampah yang dimulai dari titik awal di Warung Polar (Warpol) hingga berakhir di jantung kawasan Dadaha, Sabtu (25/4/2026).
Namun, bagi Z-Clean, capaian 42,3 kg sampah yang terkumpul hari itu bukanlah sebuah prestasi yang patut dibanggakan dengan jempol ke atas. Angka itu justru menjadi sebuah “teguran” visual yang nyata.
Sampah-sampah tersebut dipilah dengan teliti. Sampah residu yang tak lagi bernilai dialokasikan ke TPS Dadaha, sementara sampah anorganik yang masih punya “napas kedua” disedekahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya. Di penghujung aksi, cairan eco-enzyme dikocorkan ke Danau Dadaha, sebuah simbol upaya pemulihan air dengan cara yang paling ramah.
Kabid Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, ST, MP, memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat pengurangan sampah di sumber yang ditunjukkan melalui aksi ini.
“Kami mendorong semangat memilah sampah organik dan anorganik dari sumbernya agar dapat dimanfaatkan kembali dengan konsep 3R. Harapan besarnya, yang dibuang ke TPA Ciangir hanyalah residunya saja,” ujar Feri.
Ia juga menambahkan bahwa pemanfaatan olahan sampah organik, seperti sisa buah-buahan yang dijadikan produk eco-enzyme, merupakan langkah strategis. “Pengocoran eco-enzyme ke kolam Taman Dadaha adalah upaya nyata untuk mereduksi pencemaran air dan udara di kawasan tersebut,” tambahnya.
Meski rangkaian aksi ini terlihat heroik, Ketua Pelaksana Z-Clean, Muhammad Abil Marahim Syabani, justru mengajak semua pihak untuk berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam. Menurutnya, Clean Up Day adalah ruang refleksi kolektif bahwa setiap potong plastik yang dipungut hari itu adalah cermin dari kebiasaan sehari-hari yang seringkali luput dari kesadaran.
“Kami tidak ingin mengklaim bahwa kegiatan ini adalah solusi tuntas. Sejujurnya, aksi bersih-bersih tanpa kesadaran itu ibarat kita hanya memindahkan sampah dari satu titik ke titik lainnya,” tegas Abil.

Z-Clean ingin menekankan bahwa musuh utama lingkungan bukanlah sampah itu sendiri, melainkan rasa abai. Perubahan yang berkelanjutan tidak akan lahir dari aksi massal sesaat, melainkan dari komitmen sunyi yang dimulai dari diri sendiri, di rumah masing-masing, setiap harinya.
Melalui Week 4 ini, Z-Clean tidak hanya ingin membersihkan jalanan Tasikmalaya, tapi juga ingin “membersihkan” sudut pandang masyarakat. Bahwa merawat bumi adalah tentang melakukan langkah-langkah kecil yang konsisten.
“Ini adalah ajakan untuk melihat lebih dalam ke akar permasalahan. Mari bangun perubahan yang dimulai dari langkah paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Abil. Red
#ZClean2026, #TasikmalayaCleanUp, #PloggingIndonesia, #EnvironmentFirst, #ZeroWaste, #Wartatasik
