Sejumlah Elemen Protes Keras Rakor Bawaslu Kota Tasik di Pangandaran, Ada Apa? Ternyata, ini Biangnya..!!

Suasana rakor Bawaslu di Pangandaran | dokpri

“Sejumlah Elemen Protes Keras Rakor Bawaslu Kota Tasik di Pangandaran, Ada Apa? Ternyata, ini Biangnya..!! Goyang mang….”

Kota, Wartatasik.com – Sangat tak pantas memang, kegiatan rapat koordinasi hukum penanganan pelanggaran dan penyelesaian sengketa pemilu tahun 2019 yang diselenggarakan Bawaslu Kota Tasikmalaya dianggap mencoreng nama baik kota santri.

Pasalnya, suguhan artis seksi sangat kontra produktif dengan Perda Tata Nilai yang ada di Kota Tasikmalaya, terlebih video goyang artis dangdut sudah tersebar luas di pesan akun whatsapp.

Tak ayal, polemik tersebut mendapat protes keras dari beragam elemen, salah satunya dari Ketua Koalisi Pemilih Cerdas (Kompas) Asep Rizal.

Ia menyayangkan kegiatan tersebut, selain pelaksanaanya di luar kota (Pangandaran) yang cukup memakan anggaran. Kegiatan itu pun diisi dengan hiburan dangdut dengan polesan artis penampilan ‘tak elok’.

“Pokoknya tak pantas, sangat berbenturan dengan jargon Tasikmalaya Kota Santri,” ujar Asep, Rabu (03/07/2019).

Capture, video suguhan artis ‘seksi’ ini mengundang kontra produktif dengan Perda Tata Nilai yang ada di Kota Tasikmalaya, terlebih video goyang artis dangdut sudah tersebar luas di pesan akun whatsapp. | dok

Menurut Asep, acara tersebut kan formal dan juga menggunakan uang negara, apakah di kota Tasikmalaya tidak ada tempat yang representatif.

“Atau memang tujuannya untuk hura hura yang dibalut dengan rapat?,” tandas Asep.

Komentar kritis pun terlontar dari Sekjend Kompas Myftah Farid, S.IP, sebab ditengah kondisi pemilu pasca putusan MK yang sudah mulai mereda, kenapa Bawaslu kota Tasikmalaya seolah memancing masyarakat untuk bergeming kembali.

“Tak pantaslah kalau institusi sebesar Bawaslu mempertontonkan artis berpenampilan yang tak islami, ini menghina Perda Tata Nilai Kota Tasikmalaya,” paparnya.

Lanjut Myiftah, seharusnya Bawaslu memberi pendidikan yang baik dan solutif terkait kondisi pasca pemilu terhadap masyarakat, bukan malah memberi contoh yang tidak baik, karena yang tercoreng itu bukan hanya institusi Bawaslu tetapi nama baik daerah dan masyarakat Kota Tasikmalaya.

“Atas kegiatan tersebut Kompas menuntut ketua Bawaslu dan Komisioner lainnya meminta maaf kepada masyarakat Kota Tasikmalaya,” tutupnya. Asron.

Berita Terkait